Kabel Semakin Semrawut, Apakah Itu Bagian Dari Kode Alam?

Published on

spot_img

Radar Tulungagung, Jika kamu sering lewat jalan utama di Tulungagung, coba deh tengok ke atas. Pemandangan langit kota kita bukannya langit biru bersih, tapi justru kayak “jaring-jaring Spiderman yang selesai melawan pelaku kejahatan.” Kabel-kabel menggantung semrawut, berbelit, miring ke sana-sini, dan nggak jarang malah nyaris jatuh ke jalan.

Ini bukan cuma soal estetika kota. Tapi juga soal keselamatan. Di beberapa titik, kabel-kabel itu sudah tidak pada tempatnya, ada yang menjuntai, bahkan mulai di tumbuhi rerumputan, atau parahnya lagi, melintang rendah di jalan. Ngeri nggak sih kalau tiba-tiba nyangkut pengendara?

Kita ini hidup di kota yang katanya sedang berkembang. Tapi ternyata wajah kotanya malah kayak benang kusut yang nggak pernah diurus. Pertanyaannya: siapa yang bertanggung jawab? Atau jangan-jangan kita semua sudah terlalu biasa melihat kekacauan sampai akhirnya cuek?

Baca Juga  Kandang Bubrah Wealth Ritual Without Human Sacrifice Allegedly Turns Ordinary Families Into Sudden Millionaires

Yang lebih aneh, kabel-kabel itu disinyalir banyak yang sudah mati alias bekas jaringan lama. Tapi dibiarkan menggantung begitu saja. Bukannya dibersihkan, malah terus ditambah sama kabel baru. Ini sudah waktunya ada pembenahan. Mimpi Tulungagung jadi kota cantik dan nyaman nggak akan tercapai kalau urusan kabel aja nggak bisa ditata. Harus ada sistem dan aksi nyata. Jangan nunggu sampai ada korban dulu baru heboh.

Ini bukan hanya soal teknis kelistrikan atau perwifian. Ini soal bagaimana kita membangun peradaban kota. Kota yang baik bukan hanya yang punya mall, trotoar, atau videotron, tapi kota yang rapi dan aman bahkan dalam hal-hal kecil seperti urusan kabel.

Baca Juga  Mantan Wadir RSUD dr Iskak Tulungagung Jadi Tersangka, Salah Gunakan Dana SKTM Rp 4,3 M

Mimpi Tulungagung jadi kota cantik dan nyaman akan jauh dari kalimat tercapai kalau urusan kabel aja nggak bisa ditata. Harus ada sistem dan aksi nyata. Harus ada kolaborasi nyata antarlembaga, jangan lagi semua berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi. Dan yang paling penting, harus ada political will dari para pengambil kebijakan. Karena ketika kabel semrawut dibiarkan, itu bukan hanya soal gangguan visual, tapi simbol dari betapa semrawutnya manajemen kota kita.

Latest articles

popular

Young Farmers in Tulungagung Remain Below 10 Percent as Regeneration Challenge Grows

TULUNGAGUNG - Young farmers in Tulungagung still account for less than 10 percent of the...

How should I prepare financially to launch my own business?

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia,...

An entrepreneur shares 20 tips for traveling for free

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia,...

Literacy Drive in Tulungagung Expands as Public Library Offers More Than 861,000 Book Collections

TULUNGAGUNG - Literacy drive efforts in Tulungagung continue to expand as the local library agency...

13th Salary for Indonesian Civil Servant Retirees Set to Be Paid in June 2026 After PMK No. 13/2026 Issued

RADAR TULUNGAGUNG - The Indonesian government has confirmed that the 13th salary for Indonesian...

More like this

Kekeringan Pacitan, YBM BRILiaN BRI Salurkan 35 Ribu Liter Air Bersih ke 7 Titik

PACITAN, – Krisis air bersih akibat musim kemarau melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pacitan....

Sumpah Pemuda dan Krisis Imajinasi Sebuah Bangsa

Oleh: M. Sholichul Umam Ada yang ganjil dari cara kita memperingati Sumpah Pemuda. Setiap Oktober,...

Dari Jualan Sembako hingga Jadi Agen BRILink, Nofiliya Rasakan Manfaatnya di Pasar Legi Blitar

BLITAR – Nofiliya membuktikan bahwa usaha kecil bisa berkembang dengan memanfaatkan peluang yang ada....