Oleh: M. Sholichul Umam
Ada yang ganjil dari cara kita memperingati Sumpah Pemuda. Setiap Oktober, kita mengulang kalimat-kalimat heroik tentang persatuan: bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu; Indonesia. Kita mengibarkan bendera, menyelenggarakan upacara, menggelar lomba, lalu kembali ke kehidupan semula. Seolah-olah sejarah adalah panggung yang cukup kita datangi setahun sekali, bukan cermin yang semestinya membuat kita gelisah setiap hari.
Padahal, Sumpah Pemuda 1928 lahir dari kegelisahan. Ia bukan produk generasi yang hidup dalam kenyamanan, melainkan buah perjumpaan anak-anak muda dengan zaman yang menindas, membatasi, dan memecah belah. Mereka tidak memiliki banyak hal yang kini kita nikmati. Namun, mereka mempunyai sesuatu yang tak mudah ditemukan: keberanian membayangkan Indonesia sebelum Indonesia menjadi kenyataan politik.
Di situlah letak persoalan pemuda hari ini. Kita tidak sedang kekurangan anak muda yang cerdas, terampil, dan akrab dengan teknologi. Kita justru perlu bertanya: apakah kecerdasan itu telah melahirkan keberanian berpikir? Apakah keterampilan itu telah menjelma menjadi kemampuan menciptakan sesuatu? Dan apakah kemudahan memperoleh informasi membuat kita semakin bijaksana, atau sekadar semakin cepat menyampaikan pendapat?
Kita hidup dalam zaman ketika hampir semua hal bisa ditemukan melalui layar, tetapi tidak semuanya sungguh-sungguh dipahami. Informasi berlimpah, perhatian justru semakin pendek. Kita mengetahui banyak hal secara sepotong-sepotong, lalu merasa cukup untuk menghakimi. Perdebatan berlangsung gaduh, tetapi percakapan yang mendalam semakin jarang. Orang berlomba terlihat paling benar, bukan berusaha memahami persoalan secara utuh.
Tentu, ini bukan semata-mata kesalahan generasi muda. Kita juga harus memeriksa lingkungan yang membentuk mereka. Sistem pendidikan kerap terlalu sibuk mengejar angka dan kelulusan. Ruang publik lebih menghargai sensasi daripada gagasan. Dunia kerja menuntut kompetensi, tetapi kesempatan tidak selalu tersedia secara adil. Sementara itu, keberhasilan sering dipersempit menjadi soal pendapatan, jabatan, popularitas, dan barang yang berhasil dikumpulkan.
Akibatnya, banyak anak muda dipaksa berlari sebelum sempat menentukan ke mana mereka hendak pergi. Mereka sibuk mengejar standar keberhasilan yang dibentuk orang lain. Ketika gagal memenuhi standar tersebut, mereka merasa tertinggal, bahkan menganggap dirinya tidak berharga. Padahal, tidak semua yang tampak berhasil di hadapan publik sungguh-sungguh memiliki kehidupan yang selesai dengan baik.
Di sinilah kita membutuhkan keberanian untuk berhenti sejenak dan berpikir. Saya kira, salah satu krisis yang perlu kita bicarakan dalam momentum Sumpah Pemuda adalah krisis imajinasi: ketidakmampuan membayangkan kehidupan yang lebih baik di luar ukuran-ukuran yang telanjur dianggap normal. Kita pandai menyesuaikan diri dengan keadaan, tetapi kurang berani mempertanyakan mengapa keadaan harus terus berlangsung seperti itu.
Padahal, perubahan besar selalu dimulai dari pikiran yang menolak menganggap kenyataan hari ini sebagai satu-satunya kemungkinan. Buku, seni, sastra, dan teater mempunyai peran penting dalam membangun keberanian tersebut. Membaca mengajarkan kita memasuki pikiran orang lain, termasuk mereka yang berbeda zaman, pengalaman, dan keyakinan. Sastra membuat kita mengenali manusia bukan sebagai angka statistik, melainkan sebagai kehidupan yang rumit. Teater mengajarkan empati: untuk memahami tokoh, kita harus bersedia melihat dunia dari tempat orang lain berdiri.
Sayangnya, ruang-ruang semacam ini belum memperoleh perhatian yang sepadan. Kegiatan membaca masih kerap diperlakukan sebagai kewajiban sekolah, bukan kebutuhan batin. Seni sering dianggap pelengkap, bukan cara memahami kenyataan. Padahal, bangsa yang hanya melatih orang untuk bekerja, tetapi tidak membiasakan mereka berpikir dan berempati, berisiko melahirkan tenaga terampil yang kehilangan arah.
Kita tidak sedang membutuhkan pemuda yang terus-menerus dinasihati agar menjadi generasi hebat. Kita membutuhkan lingkungan yang memungkinkan mereka bertumbuh menjadi manusia merdeka: berani bertanya, tekun belajar, sanggup menerima kritik, dan tidak takut berbeda. Sekolah harus memberi ruang bagi rasa ingin tahu. Kampus perlu menjadi tempat perdebatan gagasan yang sehat. Pemerintah mesti membuka akses yang lebih adil terhadap pendidikan, pekerjaan, dan ruang berkarya. Organisasi kepemudaan pun harus berani keluar dari rutinitas seremonial dan menghadirkan kerja nyata di tengah masyarakat.
Bagi organisasi politik, tantangannya juga tidak kecil. Anak muda tidak semestinya hanya dipanggil ketika dibutuhkan tenaganya, dijadikan latar dalam panggung kampanye, atau dihitung sebagai angka dalam daftar pemilih. Mereka harus diberi kesempatan menyusun gagasan, menguji kebijakan, bahkan mengoreksi keputusan yang keliru. Politik seharusnya menjadi ruang pendidikan publik, bukan sekadar arena perebutan pengaruh.
Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa persatuan bukanlah keseragaman. Indonesia dibangun oleh perbedaan yang bersedia mencari tujuan bersama. Karena itu, pemuda tidak harus berpikir sama, membaca buku yang sama, atau memilih jalan hidup yang seragam. Yang penting, perbedaan tidak membuat kita kehilangan kemampuan untuk mendengarkan dan bekerja bersama.
Hampir seabad setelah ikrar itu diucapkan, barangkali pertanyaan paling penting bukan lagi apakah pemuda mencintai Indonesia. Pertanyaannya, Indonesia seperti apa yang sedang mereka perjuangkan? Sebab, mencintai bangsa tidak cukup dengan bangga pada sejarahnya. Cinta juga menuntut keberanian melihat kekurangannya, kesediaan memperbaikinya, dan kemampuan membayangkan masa depan yang belum pernah ada.
Jangan sampai kita mewarisi Sumpah Pemuda hanya sebagai kalimat yang fasih diucapkan, tetapi kehilangan daya gugah yang dahulu membuatnya lahir. Bangsa ini tidak kekurangan slogan tentang masa depan. Yang masih kita perlukan adalah manusia-manusia muda yang mau membaca lebih jauh, berpikir lebih dalam, merasakan penderitaan sesamanya, dan bekerja melampaui kepentingan dirinya sendiri.
Sebab, masa depan tidak pernah datang sebagai hadiah. Ia harus lebih dahulu dibayangkan, kemudian diperdebatkan, diperjuangkan, dan diwujudkan. Dan setiap zaman selalu membutuhkan pemuda yang berani melakukan semuanya itu. (*)

