Radar Tulungagung, Jika kamu sering lewat jalan utama di Tulungagung, coba deh tengok ke atas. Pemandangan langit kota kita bukannya langit biru bersih, tapi justru kayak “jaring-jaring Spiderman yang selesai melawan pelaku kejahatan.” Kabel-kabel menggantung semrawut, berbelit, miring ke sana-sini, dan nggak jarang malah nyaris jatuh ke jalan.
Ini bukan cuma soal estetika kota. Tapi juga soal keselamatan. Di beberapa titik, kabel-kabel itu sudah tidak pada tempatnya, ada yang menjuntai, bahkan mulai di tumbuhi rerumputan, atau parahnya lagi, melintang rendah di jalan. Ngeri nggak sih kalau tiba-tiba nyangkut pengendara?
Kita ini hidup di kota yang katanya sedang berkembang. Tapi ternyata wajah kotanya malah kayak benang kusut yang nggak pernah diurus. Pertanyaannya: siapa yang bertanggung jawab? Atau jangan-jangan kita semua sudah terlalu biasa melihat kekacauan sampai akhirnya cuek?
Yang lebih aneh, kabel-kabel itu disinyalir banyak yang sudah mati alias bekas jaringan lama. Tapi dibiarkan menggantung begitu saja. Bukannya dibersihkan, malah terus ditambah sama kabel baru. Ini sudah waktunya ada pembenahan. Mimpi Tulungagung jadi kota cantik dan nyaman nggak akan tercapai kalau urusan kabel aja nggak bisa ditata. Harus ada sistem dan aksi nyata. Jangan nunggu sampai ada korban dulu baru heboh.
Ini bukan hanya soal teknis kelistrikan atau perwifian. Ini soal bagaimana kita membangun peradaban kota. Kota yang baik bukan hanya yang punya mall, trotoar, atau videotron, tapi kota yang rapi dan aman bahkan dalam hal-hal kecil seperti urusan kabel.
Mimpi Tulungagung jadi kota cantik dan nyaman akan jauh dari kalimat tercapai kalau urusan kabel aja nggak bisa ditata. Harus ada sistem dan aksi nyata. Harus ada kolaborasi nyata antarlembaga, jangan lagi semua berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi. Dan yang paling penting, harus ada political will dari para pengambil kebijakan. Karena ketika kabel semrawut dibiarkan, itu bukan hanya soal gangguan visual, tapi simbol dari betapa semrawutnya manajemen kota kita.

