Keracunan MBG Tulungagung Terulang, 24 Siswa SDN 3 Bungur Dilarikan ke Puskesmas

Published on

spot_img

TULUNGAGUNG – Kasus keracunan MBG Tulungagung kembali terjadi dan membuat dunia pendidikan heboh. Kali ini menimpa 24 siswa SDN 3 Bungur, Kecamatan Karangrejo, pada Selasa (10/2) pagi. Para siswa mengalami gejala mual, muntah, dan pusing setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan sekolah. Seluruh siswa yang terdampak langsung dilarikan ke Puskesmas Karangrejo untuk mendapat perawatan medis.

Kepala SDN 3 Bungur, Handri Susanto, menjelaskan bahwa menu MBG diterima sekolah sekitar pukul 07.30 dari pihak penyedia SPPG Bungur. Seperti kebiasaan sebelumnya, sekolah meminta siswa menyantap makanan tersebut pada pagi hari demi menjaga higienitas.

“Biasanya memang kami minta dimakan pagi. Kalau nunggu istirahat takutnya sudah tidak higienis,” ujar Handri.

Namun, sejak makanan dibagikan, sejumlah siswa mulai mengeluhkan kondisi lauk dan sayur yang dianggap tidak layak konsumsi. Mereka mencium bau tidak sedap pada menu yang disajikan. Menu MBG pada hari itu berisi nasi, tumis kacang, ayam suwir, tahu, dan kurma.

“Kalau bagian jatah guru tidak ada masalah. Tapi di bagian anak-anak, sebagian ada yang tercium bau kurang sedap. Dari lauknya, juga sayurnya,” jelas Handri.

Baca Juga  Gondang 1 Bridge Reconstruction Triggers Water Pipe Relocation as Traffic Diversions Remain Busy

Gejala Muncul 20–30 Menit Setelah Konsumsi

Meski sebagian siswa menyadari adanya kejanggalan pada aroma makanan, banyak yang tetap mengonsumsinya karena tidak memahami ciri-ciri makanan yang sudah basi. Sekitar 20 hingga 30 menit setelah makan, keluhan mulai bermunculan. Anak-anak mengeluhkan mual, pusing, dan ingin muntah saat masih mengikuti pelajaran di kelas.

“Anak-anak mulai pusing, mual. Kejadiannya saat mereka masih di kelas, setelah sarapan dan saat kegiatan pembelajaran,” lanjut Handri.

Mendapati kondisi tersebut, pihak sekolah bergerak cepat. Guru langsung membawa siswa yang sakit ke Puskesmas Karangrejo sambil berkoordinasi dengan tenaga medis agar siap menerima pasien dalam jumlah banyak.

Beberapa siswa yang sudah sempat pulang ke rumah pun ikut merasakan efek keracunan. Mereka akhirnya kembali ke puskesmas setelah diantar orang tua dan guru sebagai pasien susulan.

Dua Siswa Masih Dirawat, Lainnya Stabil

Dari total 24 siswa yang sempat mendapatkan perawatan, mayoritas sudah stabil dan diizinkan pulang pada siang hari. Hingga pukul 13.00, hanya dua siswa yang masih menjalani perawatan lebih lanjut karena membutuhkan infus untuk memulihkan kondisi.

Baca Juga  18 Free Nutritious Meal Kitchens Suspended in Tulungagung Over SOP Compliance Failures

Kejadian ini paling banyak menimpa siswa kelas 5 dan 6, meskipun beberapa siswa kelas 1 dan 2 juga terdampak. Menariknya, tidak semua siswa memakan menu MBG hari itu. Ada yang memilih tidak memakannya karena tidak menyukai menu yang disajikan.

Akibat insiden ini, kegiatan pembelajaran di SDN 3 Bungur dihentikan lebih awal. Siswa dipulangkan untuk belajar dari rumah, sementara sebagian guru mendampingi siswa di puskesmas dan guru lainnya tetap berjaga di sekolah.

Program MBG Sudah Berjalan Sejak Januari

Handri mengungkapkan bahwa program Makan Bergizi Gratis di sekolah tersebut sudah berjalan sejak pertengahan Januari. Penerima MBG di SDN 3 Bungur mencapai sekitar 76 siswa dan 13 guru. Jika dihitung dari total siswa yang menerima makanan, kasus keracunan ini menimpa hampir sepertiga siswa.

Baca Juga  Sambirobyong-Pulotondo Road Repair Begins in Tulungagung, Rain-Filled Potholes Slow Early Work

“Kami berharap ini jadi evaluasi bersama agar ke depan tidak terulang lagi,” pungkas Handri.

Kasus Berulang, Perlu Pengawasan Ketat

Kasus keracunan MBG Tulungagung ini bukan yang pertama. Beberapa pekan sebelumnya, insiden serupa juga terjadi di sekolah lain dan menimbulkan pertanyaan besar terkait pengawasan kualitas makanan. Banyak pihak mendesak agar proses penyediaan makanan bergizi gratis diawasi lebih ketat, mulai dari penyimpanan bahan, pengolahan, distribusi, hingga pembagian di sekolah.

Para orang tua berharap kejadian ini segera mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah serta pihak penyedia katering. Mereka meminta jaminan keamanan makanan agar siswa tidak terus-menerus menjadi korban.

Program MBG sejatinya dirancang untuk memenuhi gizi siswa dan mendukung proses belajar. Namun, jika tidak diawasi dengan baik, program ini justru dapat menimbulkan risiko kesehatan yang membahayakan.

Masyarakat kini menunggu langkah evaluasi dari dinas terkait. Harapannya, ada pemeriksaan menyeluruh terhadap penyedia makanan dan SOP distribusi sehingga program MBG bisa berjalan aman dan bermanfaat sesuai tujuan awalnya.

Latest articles

popular

Young Farmers in Tulungagung Remain Below 10 Percent as Regeneration Challenge Grows

TULUNGAGUNG - Young farmers in Tulungagung still account for less than 10 percent of the...

Literacy Drive in Tulungagung Expands as Public Library Offers More Than 861,000 Book Collections

TULUNGAGUNG - Literacy drive efforts in Tulungagung continue to expand as the local library agency...

13th Salary for Indonesian Civil Servant Retirees Set to Be Paid in June 2026 After PMK No. 13/2026 Issued

RADAR TULUNGAGUNG - The Indonesian government has confirmed that the 13th salary for Indonesian...

Eid Traffic Preparations Begin in Trenggalek as Officials Repair Signals and Deploy Road Teams

TRENGGALEK - The Trenggalek administration has stepped up Eid traffic preparations before this year’s...

The bond market is even bigger than the stock market

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia,...

More like this

Kekeringan Pacitan, YBM BRILiaN BRI Salurkan 35 Ribu Liter Air Bersih ke 7 Titik

PACITAN, – Krisis air bersih akibat musim kemarau melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pacitan....

Sumpah Pemuda dan Krisis Imajinasi Sebuah Bangsa

Oleh: M. Sholichul Umam Ada yang ganjil dari cara kita memperingati Sumpah Pemuda. Setiap Oktober,...

Dari Jualan Sembako hingga Jadi Agen BRILink, Nofiliya Rasakan Manfaatnya di Pasar Legi Blitar

BLITAR – Nofiliya membuktikan bahwa usaha kecil bisa berkembang dengan memanfaatkan peluang yang ada....