TRENGGALEK – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek jangan asal membuat event bertajuk jaranan.
Hal ini dilakukan untuk mengenalkan kesenian tradisional tersebut di kancah nasional hingga internasional.
Apalagi, Bupati Trenggalek Moch. Nur Arifin menegaskan komitmennya untuk menjadikan daerah yang dipimpinnya sebagai pusat jaranan dunia.
Itu dibuktikan dengan pelaksanaan Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2025 yang saat ini sedang berlangsung.
Kegiatan tersebut adalah sebuah ajang budaya yang tahun ini digelar lebih panjang selama tujuh hari dengan format berbeda dari biasanya.
Festival kali ini berlangsung murni atas inisiatif komunitas jaranan.
Selain ekshibisi, panitia juga menambahkan pameran jaranan dan penampilan penari dari mancanegara.
“Yang mungkin ingin kita pertahankan, satu, ada jaranan ekshibisi. Jadi, orang tahu jaranan, tapi tidak tahu filosofinya. Budaya itu bentuk formalisasi dari nilai-nilai. Ini sebenarnya yang ingin kita sebarkan kepada masyarakat,” kata Nur Arifin.
Dia menjelaskan, jaranan bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan ajaran yang sarat makna.
Jika dulu jaranan melambangkan kepahlawanan dalam mengalahkan musuh, kini pesan itu bergeser menjadi perlawanan terhadap sifat buruk dalam diri manusia.
“Ini nilai yang harus tetap ada, karena jaranan tidak hanya sekedar tontonan, tapi juga tuntunan,” tegasnya.
Gagasan menjadikan Trenggalek sebagai rumah jaranan dunia juga terinspirasi dari pengalaman lintas negara.
Menurut Bupati, budaya jaranan memiliki kesamaan dengan berbagai bentuk kesenian di luar negeri.
Misalnya, gaya tari populer Gangnam Style dari Korea disebut tak jauh dari gerakan jaranan.
Kemudian, ada hobi horse dari Finlandia yang sudah masuk Olimpiade.
Tak kalah menarik, terdapat Rajasthan Dance Horse dari India, hingga simbolisasi barongan di Meksiko yang serupa dengan tradisi suku Maya.
“Saya kepikiran nanti mau audiensi ke pemerintah Finlandia. Mereka punya hobi horse yang diperlombakan. Kalau kita bisa kolaborasi dengan musik dan pertunjukan, ini bisa ditampilkan di sini. Jadi benar-benar Trenggalek jadi rumahnya jaranan dunia,” jelasnya.
Festival Jaranan Trenggalek sudah digelar selama 29 tahun berturut-turut.
Tahun ini, peserta tidak lagi didominasi oleh kelompok lokal, tetapi banyak yang datang dari luar daerah.
Perubahan itu diyakini menjadi langkah penting menuju panggung yang lebih besar.
”Semoga saja keinginan kami untuk mengenalkan jaranan ini bisa terwujud,” jelas Nur Arifin. (jaz/c1)

