TULUNGAGUNG – Silvia Kusuma Dewi, Duta Batik Indonesia warga Kelurahan Tlumpu, Kecamatan Sukorejo, Blitar, memecah pakem batik tradisional lewat terobosan warna mencolok.
Perempuan yang sejak Desember 2024 ini memesan batik berwarna pink fusia, ungu, kuning, dan biru pastel, lalu mengemasnya dalam busana kasual, pesta, dan aksesori lewat bisnis fashion yang dijalaninya.
Langkahnya tak hanya meraih pasar, tapi mendorong pembatik lokal keluar dari zona nyaman.
Lewat advokasi “Berkreasi: Berbatik Keren Bersama Silvia” dan konten media sosial, dia gencar mengedukasi publik.
Bahwa batik bisa tampil modern tanpa hilang nilai tradisi, sembari menjalankan pelatihan modeling dan public speaking bagi generasi muda.
Saat batik masih dianggap kain tradisional berwarna gelap dan ketinggalan zaman, perempuan muda warga Bumi Bung Karno ini justru berani melawan arus.
Silvia Kusuma Dewi, Duta Batik Indonesia yang kini mengubah wajah batik lewat sentuhan warna mencolok seperti pink fuchsia, ungu, kuning, dan biru pastel yang dikemas dalam desain modern.
Perempuan yang bermukim di Kelurahan Tlumpu ini memulai langkah dari kecintaannya pada dunia modeling.
Sejak kecil, Silvia bermimpi punya koleksi busana sendiri dan tampil sebagai model profesional.
Kini mimpi itu terwujud, tak hanya sebagai model lepas, tapi juga wirausahawan muda yang mengelola Silvia Collection, usaha penyewaan busana batik dan aksesori fashion.
Pada 2023, Silvia mulai melirik batik. Tapi perhatiannya tak berhenti pada apresiasi biasa.
Dia justru mempertanyakan mengapa batik selalu identik dengan warna gelap dan kesan formal.
Dari situ, muncul ide jika batik dibuat dengan warna berani dan dikemas dalam berbagai gaya, mulai dari kasual, pesta, hingga aksesori.
Desember 2024 jadi titik balik. Silvia nekat memesan kain batik ukuran 2,25 meter dengan  warna mencolok.
Permintaan ini jadi tantangan besar bagi pembatik langganannya yang harus coba berkali-kali supaya warna yang diinginkan cocok.
Koleksi pertama berupa celana cutbrai dengan paduan pink, hijau, kuning, putih, dan hitam.
Hasilnya, respons publik sangat positif. Banyak orang tertarik dengan konsep batik kasual yang segar dan beda dari biasanya.
Tak berhenti di situ, Silvia lanjut dengan koleksi batik pesta berwarna pink fusia dan ungu yang mencuri perhatian.
“Batik ini sangat unik dan tentunya proses pembuatannya harus beberapa kali percobaan sampai berhasil,” kata perempuan 21 tahun ini.
Yang lebih membanggakan, inovasi Silvia tak cuma berdampak pada bisnisnya, tapi juga menginspirasi para pembatik untuk berani bereksperimen.
Suatu kali, saat berkunjung ke pembatik langganannya, Silvia lihat kain batik merah muda yang cantik. Ternyata, pembatik itu terinspirasi dari karya-karyanya.
“Saya terinspirasi dari Mbak Silvia,” ungkap sang pembatik.
Kain itu kemudian dibeli Silvia dan disulap jadi gaun pesta yang dipakainya saat grand final kompetisi. Gaun itu sukses jadi pusat perhatian.
Ini membuktikan peran generasi muda sangat vital dalam mendukung UMKM dan melahirkan ekonomi kreatif yang inovatif.
Sebagai Duta Batik Indonesia dan bagian dari Gen Z, Silvia merasa punya tanggung jawab memajukan batik Indonesia.
Bagi Silvia, jadi duta bukan sekadar pakai selempang dan mahkota.
“Ketulusan hati untuk jadi bagian dari pelestarian batik yang ada di Indonesia,” tegasnya.
Dia jalankan advokasi bernama “Berkreasi: Berbatik Keren Bersama Silvia” yang fokus edukasi masyarakat, terutama anak muda, bahwa batik tak kuno dan bisa dikemas dengan cara masa kini.
Lewat media sosial, Silvia aktif buat konten yang perkenalkan hasil karyanya.
Dalam setiap konten, dia selalu tekankan pesan bahwa batik bisa keluar dari zona nyaman.
Konten-kontennya itu tak cuma menarik perhatian, tapi juga datangkan pelanggan yang mau sewa batik untuk acara lomba fashion show, pemotretan, dan berbagai keperluan lain.
Di era digital, Silvia lihat peluang besar untuk kembangkan batik.
Kemudahan pasarkan produk online, buat konten menarik, dan ikuti tren fashion bikin batik makin mudah dikenal luas.
“Kita perlu terus berinovasi di era digital ini agar batik terus maju dan berkembang di era modern,” paparnya.
Selain berbisnis, Silvia juga aktif sebagai pelatih model di kelas yang beberapa waktu lalu.
Tak hanya latih modeling, ia juga ajarkan public speaking dan persiapkan peserta untuk kompetisi kecantikan (pageant).
Baru-baru ini, Silvia dapat tugas pertama sebagai Duta Batik Indonesia untuk perkenalkan batik pada anak usia dini dan beri pelatihan modeling di sebuah taman kanak-kanak.
Pengalaman ini makin kuatkan tekadnya untuk terus edukasi generasi muda tentang kekayaan budaya Indonesia.
Sebagai seorang duta, Silvia akui ada tantangan yang harus dihadapi.
Bagaimana jalankan advokasi dengan konsisten dan cara edukasi masyarakat jadi pertanyaan yang terus dijawabnya lewat aksi nyata.
“Kita lakukan dengan ketulusan hati. Setiap tantangan pasti ada jalannya,” katanya penuh optimisme.
Silvia berharap pemerintah dan masyarakat terus dukung pelestarian batik dengan pakai batik dalam kehidupan sehari-hari dan beli produk UMKM batik daerah.
“Karena ini jati diri bangsa yang harus kita angkat dan banggakan,” tegasnya.
Untuk masa depan batik Indonesia, harapan Silvia sederhana tapi bermakna, yaitu anak muda tetap cintai dan tak gentar promosikan warisan budaya ini dengan bangga.
Dengan semangat Gen Z yang kreatif dan berani, Silvia Kusuma Dewi buktikan bahwa batik bisa jadi tren modern tanpa kehilangan nilai tradisionalnya.
Lewat inovasi warna, desain, dan pemanfaatan media digital, dia buka jalan bagi generasi muda lain untuk turut lestarikan dan majukan batik Indonesia di panggung dunia.(*/c1/sub)

