Di Balik Penghargaan Anugerah Sutasoma yang Diterima Sunarko “Sodrun” Budiman, Sastrawan Jawa Asal Tulungagung

Published on

spot_img

TULUNGAGUNG – Kiprah Sunarko “Sodrun” Budiman di bidang Sastra Jawa membuatnya akrab dengan penghargaan, baik di tingkat lokal hingga nasional.

Baru-baru ini dia diganjar Anugerah Sutasoma atas dedikasi dan konsistensinya menjaga dan mengembangkan sastra Jawa.

46 tahun bukan waktu yang singkat untuk setia pada satu bidang.

Namun, bagi Sunarko Budiman, sastrawan Jawa asal Desa Balerejo, Kecamatan Kauman, Tulunaggung, ini perjalanan panjang itu justru menjadi bukti cinta yang tak lekang terhadap bahasa dan budaya Jawa.

Konsistensi pria kelahiran 1960 yang lebih suka dipanggil Sodrun ini menulis karya sastra Jawa sejak 1979, kini berbuah manis dengan penghargaan Sutasoma 2025 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.

“Ini penghargaan kategori Sastrawan Jawa. Sutasoma itu sebenarnya penghargaan bagi sastrawan yang dianggap berdedikasi menjaga dan mengembangkan sastra Jawa,” jelasnya.

Bagi Narko Sodrun, sapaan akrabnya, penghargaan itu bukan sekadar simbol prestasi, melainkan penegasan bahwa sastra Jawa masih hidup dan harus terus dihidupkan.

Baca Juga  Behind Binta Erlen Salsabela’s Medal Triumph at the 2025 SEA Games, Substandard Training Facilities and a Left Knee Injury Challenges

Dia memulai kiprah profesionalnya pada tahun 1979 ketika cerpen pertamanya dimuat di majalah Jaya Baya.

Sejak itu, dia tak pernah berhenti menulis. Hingga kini sudah ada 162 cerita cekak (cerpen Jawa) yang dimuat di berbagai majalah berbahasa Jawa seperti Jaya Baya, Panjebar Semangat, Titis Basa, Djaka Lodhang, Mekarsari, hingga Parikesit.

Selain cerpen, Sodrun juga menulis empat novel berbahasa Jawa dan delapan antologi cerita pendek.

Tak hanya itu, dia juga menghasilkan banyak guritan (puisi Jawa) serta karya fiksi berbahasa Indonesia yang pernah meraih penghargaan nasional.

Tahun 1988, dia menjadi juara dua lomba mengarang fiksi nasional yang diadakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada saat itu.

Dua tahun kemudian, dia menyabet juara tiga kategori bacaan anak-anak.

Namun, di tengah keberhasilan itu, Sodrun mulai memilih fokus menulis dalam bahasa Jawa.

“Kalau menulis bahasa Indonesia, saingannya banyak. Tapi sastra Jawa itu langka. Karena itu, saya terpacu untuk melestarikan dan mengembangkannya,” ujarnya.

Baca Juga  Mengenal Mayor Arh Yogi Hardi Yudhantio, Putra Tulungagung Yang Jadi Ajudan Kehormatan Presiden Afrika Selatan

Kesetiaan itu membuahkan deretan penghargaan.

Pada 2009, dia menerima Penghargaan Sastra Rancage, sebuah anugerah bergengsi dari yayasan besutan Ajip Rosidi untuk sastrawan daerah terbaik nasional.

Karyanya yang berjudul “Srengenge Tengange” bahkan dinobatkan sebagai novel sastrawan Jawa terbaik versi Balai Bahasa Jawa Timur tahun 2016, lalu juga berkesempatan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Merenda Matahari (2020).

Tahun 2023, antologi cerpennya “Sura Agul-Agul” kembali meraih Sastra Rancagé Nasional.

Namanya juga sempat mencuat di panggung internasional ketika diundang dalam Ubud Writers and Readers Festival di Bali, berdiskusi bersama sastrawan dari Sunda, Lampung, dan Bali.

Dia juga aktif dalam berbagai forum kebudayaan di tingkat nasional.

Motivasi utamanya cukup sederhana, tetapi berarti sangat dalam.

“Saya orang Jawa yang tidak ingin lupa Jawanya. Sastra dan bahasa Jawa tidak akan mati selama orang Jawa masih ada,” katanya tegas.

Baca Juga  Kiat Ilustrator Muda Tulungagung Bertahan di Era Teknologi AI, Lahirkan Karya yang Berkarakter dan Konsisten

Meski begitu, dia tak menutup mata terhadap tantangan zaman.

Anak-anak muda kini semakin jarang berbahasa Jawa, bahkan di rumah pun banyak orang tua yang lebih memilih berbahasa Indonesia dengan anaknya.

“Saya tidak menyalahkan mereka, tapi lingkungannya memang tidak mendukung,” ujarnya lirih.

Karena itu, Sodrun berharap pemerintah melalui pemerintah daerah dapat mengadakan workshop atau pelatihan etika dan tutur Jawa bagi para guru.

“Guru pun kadang sudah tidak memahami unggah-ungguh. Padahal kalau tidak dari sekolah dan keluarga, siapa lagi yang bisa melestarikan?” katanya.

Kini, di usia yang kian matang, Sodrun tak ingin berhenti.

Dia masih terus menulis, mengajar, dan membina murid di sanggarnya.

Setiap malam, tembang-tembang Jawa masih terdengar dari kediamannya di Desa Balerejo.

Pertanda bahwa semangat untuk menjaga warisan leluhur belum padam.

“Menulis bagi saya bukan sekadar hobi. Ini bentuk pengabdian kepada budaya,” pungkasnya. (*/c1/rka)

Latest articles

popular

More like this

Prabowo Subianto to Launch Merah Putih Village Cooperatives as 1,061 Units Across Java Prepare for Historic Opening

RADAR TULUNGAGUNG - The Indonesian government continues to accelerate the launch of the Merah...

KDMP Manager Salaries Won’t Raise State Budget Deficit as Government Taps Unused Village Cooperative Funds

RADAR TULUNGAGUNG - The Indonesian government confirmed that salaries for managers of the Merah...

Ngawi Merah Putih Village Cooperatives Go Viral After Riverside Construction Sparks Landslide Concerns

RADAR TULUNGAGUNG - The construction of the Merah Putih Village Cooperatives in Ngawi Regency,...