Kiat Ilustrator Muda Tulungagung Bertahan di Era Teknologi AI, Lahirkan Karya yang Berkarakter dan Konsisten

Published on

spot_img

TULUNGAGUNG – Di balik modernisasi teknologi AI, Pandhu Rangga Sasmita, seorang ilustrator muda, terus berkarya dengan warna, garis, dan imajinasi.

Hingga kini, karyanya tembus pasar Internasional.

Pemuda berusia 20 tahun asal Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, ini bukan sekadar mahasiswa Universitas Bhinneka PGRI Tulungagung.

Dia adalah seorang ilustrator muda yang tengah menapaki jalannya sendiri di dunia seni digital yang kini kian diramaikan oleh teknologi kecerdasan buatan (AI).

“Awalnya aku suka gambar dari zaman SMP, gara-gara sering nonton anime kayak Naruto sama One Piece,” kenang Pandhu sambil tertawa.

“Dulu masih gambar manual di buku gambar, belum ngerti soal digital-digitalan. Tapi dari situ aku punya mimpi untuk bisa bikin animasi atau komikku sendiri,”imbuhnya.

Namun, perjalanan itu tak mudah.

Saat pertama kali mencoba ilustrasi digital, Pandhu sempat merasa frustrasi dan hampir menyerah.

Barulah saat menempuh pendidikan di SMK jurusan animasi, dia menemukan kembali semangatnya.

Baca Juga  Traffic Volume Increases by 20 Percent In the Southern Cross Road (JLS) Area Tulungagung

“Butuh waktu dua tahun buat benar-benar paham teknik digital. Intinya sih sabar, fokus, dan jangan kebanyakan insecure,” ujarnya.

Ketekunan Pandhu mulai membuahkan hasil.

Namanya mulai dikenal di kalangan kreator Webtoon Canvas Indonesia setelah ikut mengerjakan proyek komik kolaboratif semasa SMK.

Dia bahkan sempat meluncurkan karya sendiri berjudul Hello Chiko Universe, sebuah komik aksi bertema anak sekolah dengan sentuhan gaya manhwa Korea.

“Komiknya sekarang lagi mandek karena ada kendala. Tapi aku tetap lanjut di dunia ilustrasi.” imbuhnya.

Salah satu momen berkesan dalam kariernya datang ketika seorang klien luar negeri membeli karyanya seharga USD 500.

“Itu pencapaian paling besar sejauh ini. Lucunya, sebelumnya aku malah pernah ketipu beberapa dolar waktu jual karya online. Tapi ya, dari situ belajar banyak.” terangnya.

Kini, Pandhu makin dikenal di komunitas kreator Webtoon Indonesia.

Dia menekankan pentingnya berkembang dengan gaya dan karakter sendiri.

Baca Juga  Kadispora Tulungagung Beri Semangat kepada Squad Tulungagung untuk Event Ring of Lawu 2025

“Aku suka banget style Jepang dan Korea. Tapi aku tidak mau cuma nyontek, aku ingin bikin karya yang punya jiwa Pandhu di dalamnya.” kata Pandhu.

Saat banyak seniman cemas dengan kehadiran AI yang mampu menghasilkan ilustrasi dalam hitungan detik, Pandhu justru melihatnya dengan kacamata berbeda.

Dia menilai AI itu seperti pisau bermata dua.

“Bisa bantu banget, tapi juga bisa ‘nusuk’ kalau kita tidak punya karakter kuat. Bahkan, AI cuma pintar, tapi tidak punya perasaan. Karya manusia punya emosi, luka, dan cerita. Kalau AI disuruh bikin karakter sedih, dia cuma hasilin ekspresi sedih versi data, bukan versi jiwa,” jelasnya.

Pandhu sendiri tak menolak teknologi.

Dia pernah menggunakan AI untuk membantu mencari referensi ide dan komposisi warna, tapi tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa manusia harus memegang kendali.

“AI itu cuma asisten, bukan dalang. Seniman sejati tetap harus punya arah dan rasa,” ujarnya.

Baca Juga  DPRD Ingatkan Parkir Berlangganan Harus Sesuai Aturan

Bagi Pandhu, rahasia bertahan di tengah maraknya karya berbasis AI hanya satu yaitu orisinalitas.

“AI bisa menduplikat gaya, tapi gak bisa duplikat visi. Aku fokus bangun branding visual yang punya cerita. Dunia berubah cepat, tapi yang punya karakter dan konsistensi, dia yang bakal tetap relevan,” ucapnya mantap.

Dia juga terus memperluas kemampuannya, tidak hanya dalam menggambar, tetapi juga dalam storytelling dan desain karakter.

“AI bisa cepat, tapi manusia bisa bermakna. Dan di dunia seni, makna itu segalanya,” tambahnya.

Di tengah laju teknologi, Pandhu percaya bahwa masa depan seniman tak akan redup, melainkan berevolusi.

“AI memang canggih, tapi dunia tetap butuh sentuhan manusia. Kita bukan cuma pelukis digital, tapi pencerita lewat visual. Yang survive nanti bukan yang paling jago gambar, tapi yang paling bisa menyampaikan pesan lewat seni.” jelasnya.(*/c1/rka)

Latest articles

popular

More like this

Prabowo Subianto to Launch Merah Putih Village Cooperatives as 1,061 Units Across Java Prepare for Historic Opening

RADAR TULUNGAGUNG - The Indonesian government continues to accelerate the launch of the Merah...

KDMP Manager Salaries Won’t Raise State Budget Deficit as Government Taps Unused Village Cooperative Funds

RADAR TULUNGAGUNG - The Indonesian government confirmed that salaries for managers of the Merah...

Ngawi Merah Putih Village Cooperatives Go Viral After Riverside Construction Sparks Landslide Concerns

RADAR TULUNGAGUNG - The construction of the Merah Putih Village Cooperatives in Ngawi Regency,...