Menjadi Seorang Dokter di Mata dr Sekar Puspita SpDVE, Tebar Manfaat dari Ruang Praktik hingga Pelosok Negeri

Published on

spot_img

TULUNGAGUNG – Seorang dokter memang harus mau ditempatkan di mana saja untuk memberikan pelayanan kesehatan.

Hal tersebut pernah juga dialami dr Sekar Puspita SpDVE yang pernah bertugas di Kepulauan Riau.

Kini, dia ingin memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

Momentum Hari Dokter Nasional 2025 menjadi refleksi bahwa dokter di era modern ini tak hanya soal menolong lewat tindakan medis atau pelayanan, tetapi juga lewat kata-kata serta lewat konten dan edukasi di media sosial.

Dokter bisa mengabdi di mana saja, baik di ruang praktik, di layar kecil gawai, bahkan lewat cerita yang menginspirasi.

Hal tersebut diungkapkan oleh dr Sekar Puspita Lilasari SpDVE, seorang dokter estetika atau yang biasa disebut dokter spesialis kulit dan kelamin asal Tulungagung.

Dia membagikan cerita inspiratif perjalanannya menjadi seorang dokter.

Ketika sebagian anak kecil masih bingung menjawab pertanyaan tentang cita-citanya, seorang bocah yang akrab dipanggil Sekar sudah dengan mantap berkata “aku ingin jadi dokter”.

Ucapan polos di usia 2 tahun itu bukan sekadar angan-angan masa kecil.

Kini, di usia 38 tahun, perempuan yang dikenal sebagai dr Sekar Puspita SpDVE itu telah menjadi salah satu dokter spesialis kulit dan kelamin yang berdedikasi di RSUD dr Iskak Tulungagung.

Menjadi dokter, bagi Sekar, adalah perjalanan panjang penuh konsistensi.

“Sejak kecil, cita-cita saya tidak pernah berubah. Dari TK sampai SMA, saya selalu menulis ingin menjadi dokter,” ujarnya sambil tersenyum.

Perjalanan menuju gelar spesialis kulit dan kelamin itu tak sebentar.

Total dia membutuhkan 10 tahun untuk menjadi dokter spesialis ini.

“Empat tahun sarjana, 2 tahun koas, dan 4 tahun lagi studi spesialis,” jelasnya.

Namun, sebelum meraih gelar tersebut, Sekar sempat mengabdi sebagai dokter umum di sebuah daerah terpencil di Kepulauan Riau.

Ini merupakan sebuah pengalaman yang meninggalkan kesan mendalam baginya.

Pada tahun 2013, bersama sang suami yang juga seorang dokter, Sekar menemani sang suami bertugas di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.

Di sana merupakan daerah yang masih sangat tradisional.

Wilayah tersebut hanya dialiri listrik selama 6 jam dalam setiap malam.

“Kami sempat tinggal di sana. Listrik hidup jam 6 sore dan mati jam 12 malam. Siangnya ya menikmati alam saja,” kenangnya.

Di tengah keterbatasan itu, keduanya tak hanya mengobati pasien, tapi juga meninggalkan manfaat bagi warga sekitar.

Dia bersama suami membangun jamban untuk warga desa yang sebelumnya masih buang air di tanah terbuka.

“Itu ide suami saya. Kami ingin meninggalkan sesuatu yang bermanfaat, bukan hanya kenangan. Paling tidak, ada hal baik yang bisa dikenang dari kedatangan kami di sana,” tutur Sekar.

Setelah masa pengabdian selesai, Sekar melanjutkan pendidikan spesialis di Universitas Brawijaya.

Takdir kemudian membawanya ke Tulungagung saat sang suami mendapat tugas di RSUD dr Iskak.

“Kami berdua akhirnya ditempatkan di sini. Rezeki memang sudah diatur,” katanya.

Sejak saat itu, Sekar mulai berfokus pada edukasi masyarakat seputar kesehatan kulit dan kelamin, terutama untuk meluruskan mitos-mitos yang masih banyak dipercaya warga.

“Saya mulai dengan mengedukasi pelan-pelan. Sekarang masyarakat Tulungagung sudah jauh lebih sadar dan terbuka soal kesehatan kulit. Mereka datang ke dokter bukan hanya untuk berobat, tapi juga untuk berdiskusi,” ujar Sekar bangga.

Bagi dr Sekar, Hari Dokter Nasional bukan sekadar peringatan profesi, melainkan momentum refleksi bagi setiap tenaga medis.

Dia percaya setiap dokter memiliki ruangnya sendiri untuk menebar manfaat.

Baik dari ruang praktik, media sosial, atau lewat program pengabdian di pelosok.

Sekar menyampaikan harapan tulusnya untuk rekan seprofesinya dan untuk masyarakat Tulungagung.

Sementara untuk warga, dia berpesan agar semakin percaya dan bekerja sama dengan tenaga medis demi kesehatan bersama.

“Semoga Tulungagung semakin sehat, kuat, dan penuh empati. Mari terus berbuat baik dari tempat kita berdiri untuk mereka yang kita layani,” tutupnya dengan senyum hangat. (*/c1/rka)

Latest articles

popular

Young Farmers in Tulungagung Remain Below 10 Percent as Regeneration Challenge Grows

TULUNGAGUNG - Young farmers in Tulungagung still account for less than 10 percent of the...

Eid Traffic Preparations Begin in Trenggalek as Officials Repair Signals and Deploy Road Teams

TRENGGALEK - The Trenggalek administration has stepped up Eid traffic preparations before this year’s...

How should I prepare financially to launch my own business?

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia,...

An entrepreneur shares 20 tips for traveling for free

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia,...

Literacy Drive in Tulungagung Expands as Public Library Offers More Than 861,000 Book Collections

TULUNGAGUNG - Literacy drive efforts in Tulungagung continue to expand as the local library agency...

More like this

BRI Blitar Ingatkan Nasabah Waspada Penipuan Investasi Imbal Hasil Tinggi

BLITAR - Nasabah BRI yang menggunakan layanan digital secara online diingatkan agar tidak mudah...

BRI Talun Dorong UMKM Naik Kelas, Fasiatin Kembangkan Usaha dan Layanan Keuangan

BLITAR - Usaha Fasiatin di Talun, Kabupaten Blitar, berkembang dari aktivitas perdagangan sembako menjadi...

Lemon Casino – Online Casino Recenzje

Lemon Casino - Online Casino Recenzje ...