Sulap Limbah dan Barang Bekas Jadi Bernilai Jual, Perajin Asal Tulungagung Ini Rutin Pasok Hasil Produknya ke Pasar Jember dan Kanigoro

Published on

spot_img

TULUNGAGUNG – Ali Murtadho, seorang perajin tempat sampah dan pot bunga dari bahan limbah ban bekas asal Desa Serut, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, masih bertahan di tengah perkembangan teknologi.

Meski hanya menggunakan alat seadanya, dia berpegang teguh pada kreativitas.

Tumpukan ban bekas bagi sebagian orang mungkin hanya dianggap limbah yang tak berguna.

Namun, di tangan Ali Murtadho, 45, warga Dusun Pelem, Desa Serut, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, ban bekas justru berubah menjadi peralatan rumah tangga yang bernilai jual.

Sejak tahun 2008, tepat setelah menikah dan pindah rumah, Ali mulai menekuni usaha kreatif ini.

Berbekal pengalaman membantu orang tuanya yang dulu membuat sandal karet dari ban bekas, dia mencoba peruntungan baru dengan memanfaatkan limbah tersebut dengan membuat produk lain.

Baca Juga  Meski Menjadi Disabilitas, Masruri Tetap Semangat Membuat Dekorasi Kesenian hingga Tembus Pasar Sumatra

“Awalnya ikut orang tua. Mereka dulu bikin sandal karet, tapi lama-lama tidak laku. Dari situ, saya beralih bikin bak sampah dari ban bekas,” kenangnya.

Produk buatan Ali cukup beragam. Mulai dari pot bunga, timba, hingga bak tempat sampah dengan berbagai ukuran.

Namun yang paling laris adalah bak tempat sampah.

“Ada yang jumbo, sedang, kecil, sampai paling kecil. Permintaan paling banyak ya bak tempat sampah ini,” jelasnya, sambil memotong karet pinggiran tutup bak sampah tersebut agar terlihat lebih rapi.

Pemasaran produknya pun tidak hanya sebatas pasar Kabupaten Tulungagung saja.

Ali rutin mengirim ke berbagai daerah seperti Blitar, Malang, Jember, hingga Bojonegoro.

Baca Juga  Perpustakaan Pijar Kembali Buka Lapak Gratis di Alun-Alun Blitar setelah Sempat Vakum saat Pandemi Covid-19

“Kalau dihitung rata-rata sehari bisa bikin sekitar 15–20 produk, tergantung pesanan. Kadang kecil-kecil, kadang ada yang jumbo,” ujarnya.

Meski usaha ini terbilang unik, tantangan tetap ada.

Bahan baku ban bekas kerap sulit didapat karena harus berebut dengan industri lain.

“Ban bekas ini sering juga dipakai untuk campuran bahan sepatu. Jadi kadang rebutan dengan perajin dari Mojokerto. Itu salah satu kendalanya,” kata Ali.

Selain bahan, keterbatasan tenaga juga menjadi masalah tersendiri.

Proses produksi masih dilakukan manual tanpa mesin pembelah ban.

“Yang mecah ban itu terbatas. Tidak bisa nambah orang sembarangan, karena butuh tenaga dan keterampilan khusus. Sampai sekarang masih manual,” jelasnya.

Baca Juga  Fasilitas Pasar Bendo Trenggalek Belum Optimal, Sejumlah Ruangan Tampak Tak Terurus dan Kosong Momplong

Namun, semua keterbatasan itu tak menyurutkan semangat Ali.

Dia bersyukur usahanya bisa berjalan lancar dan tetap bertahan meski tren terus berubah.

Harapannya sederhana, agar usahanya bisa lebih besar dan menembus pasar luar daerah, bahkan ekspor.

“Kalau bisa diperbesar, kenapa tidak. Semoga ke depan bisa lebih berkembang,” ucapnya penuh harap.

Dari sebuah limbah yang dianggap sampah, Ali membuktikan bahwa kreativitas bisa mengubah sesuatu menjadi bernilai.

Kegigihannya bukan hanya menjaga tradisi usaha keluarga, melainkan juga memberi contoh bahwa peluang usaha bisa datang dari hal-hal sederhana di sekitar kita. (*/c1/din)

Latest articles

popular

Young Farmers in Tulungagung Remain Below 10 Percent as Regeneration Challenge Grows

TULUNGAGUNG - Young farmers in Tulungagung still account for less than 10 percent of the...

Literacy Drive in Tulungagung Expands as Public Library Offers More Than 861,000 Book Collections

TULUNGAGUNG - Literacy drive efforts in Tulungagung continue to expand as the local library agency...

13th Salary for Indonesian Civil Servant Retirees Set to Be Paid in June 2026 After PMK No. 13/2026 Issued

RADAR TULUNGAGUNG - The Indonesian government has confirmed that the 13th salary for Indonesian...

The bond market is even bigger than the stock market

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia,...

Eid Traffic Preparations Begin in Trenggalek as Officials Repair Signals and Deploy Road Teams

TRENGGALEK - The Trenggalek administration has stepped up Eid traffic preparations before this year’s...

More like this

Kekeringan Pacitan, YBM BRILiaN BRI Salurkan 35 Ribu Liter Air Bersih ke 7 Titik

PACITAN, – Krisis air bersih akibat musim kemarau melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pacitan....

Sumpah Pemuda dan Krisis Imajinasi Sebuah Bangsa

Oleh: M. Sholichul Umam Ada yang ganjil dari cara kita memperingati Sumpah Pemuda. Setiap Oktober,...

Dari Jualan Sembako hingga Jadi Agen BRILink, Nofiliya Rasakan Manfaatnya di Pasar Legi Blitar

BLITAR – Nofiliya membuktikan bahwa usaha kecil bisa berkembang dengan memanfaatkan peluang yang ada....