TRENGGALEK – Persoalan kekurangan guru masih jadi pekerjaan rumah besar di dunia pendidikan Kabupaten Trenggalek.
Isu ini pula yang langsung disorot pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Trenggalek masa bakti 2025–2030 setelah resmi dilantik di Pendapa Manggala Praja Nugraha, Rabu (29/10) sore kemarin.
Ketua PGRI Trenggalek, Catur Winarno, menegaskan bahwa jumlah tenaga pendidik di sejumlah sekolah negeri sudah tidak seimbang dengan kebutuhan rombongan belajar.
Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada kualitas pembelajaran jika tidak segera diatasi.
“Kekurangan guru ini sudah makin besar dan tidak bisa ditunda-tunda. Ada sekolah dengan enam rombel, tapi gurunya hanya empat. Bahkan, ada sembilan kelas dengan jumlah guru yang sama,” ujarnya.
Dia menilai kekosongan tenaga pendidik di berbagai jenjang harus segera dicarikan solusi.
Meski penambahan tenaga guru tetap mengikuti regulasi pusat, langkah sementara perlu dilakukan agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan optimal.
PGRI, kata Catur, telah menyiapkan beberapa alternatif solusi.
Di antaranya, percepatan rekrutmen guru, penerapan sistem moving class, serta penugasan silang antarsekolah.
Skema tersebut diharapkan mampu menutup sementara kekurangan tenaga pengajar di sekolah-sekolah negeri.
“Kami mendorong percepatan rekrutmen dan juga menerapkan sistem moving class, di mana siswa berpindah ruang sementara guru menetap. Kalau memungkinkan, sekolah yang kelebihan guru bisa membantu sekolah lain yang kekurangan,” jelasnya.
Selain kekurangan tenaga pendidik, tantangan lain yang dihadapi pengurus baru PGRI Trenggalek adalah transformasi digital di sektor pendidikan.
Menurut mantan kepala SMPN 1 Trenggalek ini, adaptasi terhadap teknologi kini menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi, terutama di tengah kebijakan pemerintah yang mulai menyalurkan bantuan perangkat digital seperti smart TV ke sekolah-sekolah.
“Kita akan memantau dan memastikan alat-alat digital itu benar-benar dimanfaatkan untuk pembelajaran. Karena ini peluang untuk memperkuat kualitas pendidikan,” terangnya.
Meski demikian, kesiapan sumber daya manusia (SDM) juga menjadi perhatian.
Catur menyebut masih ada kesenjangan kemampuan antara guru muda dan senior dalam beradaptasi terhadap teknologi pembelajaran.
“Guru muda relatif lebih adaptif, sementara guru senior perlu pendampingan. Tapi saya yakin kolaborasi keduanya bisa berjalan baik kalau sarana dan prasarana mendukung,” ujarnya.
Sebagai organisasi profesi dan perjuangan, PGRI Trenggalek berkomitmen untuk tidak hanya menjadi mitra kritis pemerintah daerah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan.
Dengan komposisi pengurus baru dan semangat pembaruan, PGRI Trenggalek dihadapkan pada dua agenda besar yaitu memperjuangkan pemenuhan kebutuhan guru dan memastikan transformasi digital berjalan inklusif di seluruh satuan pendidikan.
“Kami akan terus mengawal profesionalisme guru melalui bimbingan teknis di seluruh kecamatan. Karena kualitas pendidikan tidak bisa lepas dari kualitas tenaga pendidik,” pungkas pria yang masih aktif menjadi pengawasan SMP di Trenggalek ini.(jaz/c1/rka)

