TRENGGALEK – Di tengah pesatnya pertumbuhan kendaraan, dokar atau andong salah satu tranportasi tradisional ternyata masih eksis keberadaanya.
Meskipun sudah bergeser fungsinya, yang dulu sebagai alat transportasi, kini menjadi atraksi wisata.
Di Kabupaten Trenggalek, cukup mudah menemukan dokar. Dokar dapat ditemukan di alun-alun dan Taman Agropark.
Di dua titik tersebut, dokar mempunyai sistem operasional yang berbeda.
Untuk kawasan alun-alun, dokar telah dijadwalkan empat dokar per harinya. Sedangkan di Agopark, dokar tidak mempunyai jadwal operasional tertentu.
“Di sini dijatah 4-4 (dokar), di sini setiap hari tidak bisa, giliran,” jelas salah satu kusir, Maryono, Jumat (24/10).
Pengunjung dapat menyewa dokar dengan tarif tertentu berdasarkan rute.
Tarif paling murah dibanderol dengan harga Rp 30 ribu dengan rute dari Alun-Alun Trenggalek menuju ke Pasar Pon kemudian kembali ke Alun-alun.
Sedangkan tarif termahal yang dibanderol dengan harga Rp 100 ribu. Dengan tarif tersebut, pengunjung dapat menikmati rute yang lebih panjang.
Mulai dari Alun-Alun kemudian menuju simpang tiga Widowati lanjut melewati Jalan Baru hingga Terminal Bus Surodakan dan kembali lagi ke Alun-Alun.
“Tinggal pilih yang jauh atau yang dekat,” ungkapnya.
Bahkan, pengunjung dapat me-request rute tertentu dan tarif dokar yang mereka inginkan.
Kusir dokar lainnya di Alun-Alun Trenggalek, Sutejo mengatakan, tarif tersebut telah ditentukan paguyuban yang berisi 16 orang kusir.
“Tarif dari paguyuban, 16 orang,” katanya.
Selain Sutejo, ada pula Maryono, 47, yang juga merupakan kusir dokar.
Dia mengaku sudah lebih dari 20 tahun narik dokar.
“Sudah ada 40 tahun, 30 tahun,” jelas Maryono.
Namun, di balik roda dokar yang berputar, faktor ekonomi masih menjadi tantangan untuk para kusir dokar tersebut.
Maryono menyebut bahwa pendapatannya tidak menentu dan tergantung hari-hari tertentu.
“Tidak tahu, kalau ada kalau minggu atau liburan gak bisa ditentukan,” tambahnya.
Maryono juga mengaku jika kegiatan narik dokar tersebut dilakukan untuk mengisi waktu luang saja, jika untuk ekonomi tidak mencukupi. Untuk menyiasatinya juga bertani dan beternak kambing.
“Nyambi ke sawah dikit-dikit, pelihara kambing,” pungkasnya. (mg2/din)

