TULUNGAGUNG – Di tengah hawa sejuk kawasan pegunungan di Desa/Kecamatan Sendang, Tulungagung, nama drh Dhesy Kartikasari dikenal sebagai sosok dokter hewan muda yang penuh semangat dan pengabdian.
Di usia 32 tahun, perempuan yang akrab disapa Dhesy ini menekuni profesinya dengan hati, mengabdikan diri untuk kesehatan hewan ternak dan peliharaan warga sekitar.
Lulus sebagai dokter hewan pada 2016, Dhesy melanjutkan pendidikan S-2 di bidang Gangguan Reproduksi Hewan hingga rampung pada 2019.
Namun, perjalanan praktik profesionalnya baru dimulai pada 2021, saat ia memutuskan membuka praktik mandiri sembari bergabung dengan Koperasi Unit Desa (KUD) Sendang.
“Awalnya saya menangani kambing dan kucing, kemudian ikut di KUD untuk menangani sapi perah. Sekarang hampir semua hewan saya tangani, dari sapi, kambing, domba, sampai kucing dan anjing,” tutur Dhesy dengan senyum hangat.
Kecintaannya pada hewan bukan datang tiba-tiba.
Dibesarkan di lingkungan peternak, sejak kecil ia sudah terbiasa hidup berdampingan dengan hewan ternak.
“Orang tua dulu punya sapi dan ayam petelur. Jadi dari kecil sudah terbiasa. Ketika saya tahu ilmunya, rasanya luar biasa. Saya semakin kagum pada ciptaan Tuhan, bagaimana sistem tubuh hewan itu begitu sempurna,” ungkapnya.
Bagi Dhesy, menjadi dokter hewan bukan sekadar profesi, melainkan bentuk pengabdian dan kepuasan batin.
“Kalau hati sudah cinta, uang bukan ukuran. Bekerja dengan hewan itu bisa jadi stress release. Mereka tulus, dan kita belajar banyak dari mereka,” katanya.
Menjadi dokter perempuan di dunia peternakan bukan hal mudah.
Dhesy mengakui masih sedikit dokter hewan perempuan yang fokus menangani ternak besar seperti sapi perah.
Namun, baginya justru di situlah letak tantangan dan kebahagiaan.
“Di sini, saya bisa lihat alam setiap hari. Ke kandang, ke ladang, di udara sejuk pegunungan. Itu menyenangkan. Saya merasa dekat dengan alam,” ujarnya.
Dalam kesehariannya, Dhesy memulai aktivitas sejak pagi.
Ia melakukan kunjungan lapangan ke peternakan sesuai jadwal KUD, terutama menangani kasus gangguan reproduksi pada sapi perah.
Sementara untuk praktik mandiri, dia melayani panggilan warga yang membutuhkan perawatan hewan peliharaan.
Namun, dunia kesehatan hewan tak lepas dari tantangan.
“Penyakit dan virus baru selalu muncul. Contohnya, ketika virus PMK yang sempat muncul lagi beberapa waktu lalu. Jadi dokter hewan dituntut terus belajar,” jelasnya.
Menariknya, Dhesy melihat tren positif di kalangan anak muda.
Profesi peternak dan dokter hewan kini kian diminati generasi milenial dan Gen Z.
“Anak-anak sekarang punya semangat entrepreneur. Mereka nggak mau disetir. Peternakan itu ladang kreatif juga. Banyak Gen Z yang mulai usaha kambing, domba, sapi. Sekarang profesi ini justru keren,” ujarnya antusias.
Di sela kesibukan, Dhesy tetap menjaga keseimbangan hidup.
Ia mengaku suka membaca buku, bermain dengan hewan peliharaan, atau sekadar berjalan kaki sore di alam terbuka.
“Jalan kaki di pegunungan sambil dengar musik, itu stress release banget. Semua rasa capek hilang,” ucapnya sambil tersenyum.
Bagi drh Dhesy Kartikasari, dunia hewan bukan sekadar tempat bekerja, tapi ruang untuk menyatu dengan alam dan belajar tentang ketulusan hidup.
Dari Sendang, ia menunjukkan bahwa pengabdian bisa lahir dari cinta. Bahkan kepada makhluk yang tak bisa berkata-kata. (sri/c1/rka)

