Author: Yan Christanto

  • Cethe, Tradisi Mengoles Ampas Kopi yang Masih Membumi di Tulungagung

    Cethe, Tradisi Mengoles Ampas Kopi yang Masih Membumi di Tulungagung

    TULUNGAGUNG – Di tengah arus modernisasi dan gaya hidup serba instan, satu tradisi khas masyarakat Tulungagung tetap bertahan dan bahkan makin digemari: nyethe. Tradisi yang berarti mengoleskan ampas kopi ke batang rokok ini, masih menjadi bagian dari budaya ngopi di berbagai sudut warung kopi (warkop) hingga pelosok desa.

    Bukan sekadar kebiasaan, nyethe telah menjelma menjadi seni unik yang mencerminkan identitas dan kreativitas warga Tulungagung. Ampas kopi yang kental diolah sedemikian rupa hingga bisa dilukiskan ke batang rokok menggunakan alat sederhana seperti tusuk gigi, korek, hingga jarum jahit. Hasilnya? Rokok-rokok bermotif batik, tribal, hingga tulisan nama seseorang yang tak jarang membuat siapa pun terkesima.

    Dari Ngopi Jadi Tradisi

    Kopi dan cethe di Tulungagung ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Tradisi ini tumbuh sejak era 1980-an, kala para petani atau buruh ladang menikmati waktu istirahatnya sambil menyeruput kopi hitam. Daripada membuang ampas kopi begitu saja, mereka mulai “bermain” dengan endapan itu dan menjadikannya sebagai alat ekspresi.

    Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi simbol silaturahmi dan kebersamaan. Dari warkop kecil di sudut kampung hingga warung hits di pusat kota, kegiatan nyethe menjadi bagian dari rutinitas. Bahkan, tak sedikit yang rela antre demi mendapatkan kopi ijo atau kopi hitam khas Tulungagung hanya untuk bisa “menyethe” dengan sempurna.

    Kopi Tulungagung: Kental, Pekat, dan Penuh Cerita

    Salah satu kekuatan nyethe terletak pada kualitas kopinya. Tulungagung dikenal memiliki jenis kopi khas seperti kopi ijo—minuman berbahan dasar kopi yang dicampur bahan seperti kacang hijau dan menghasilkan warna kehijauan. Rasanya pekat, aromanya khas, dan ampasnya sempurna untuk nyethe.

    Kopi jenis ini banyak dijumpai di Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, yang menjadi salah satu sentra produksi kopi lokal. Tak heran jika Tulungagung belakangan ini disebut-sebut layak menyandang gelar “Kota Seribu Warkop”. Hampir di tiap jalan utama maupun gang sempit, warung kopi menjamur sebagai tempat bertemunya berbagai lapisan masyarakat—dari petani, ASN, pemuda kreatif, hingga tokoh masyarakat.

    Bukan Sekadar Seni, Tapi Warisan Budaya

    Kini, nyethe tak hanya dipraktikkan sebagai pengisi waktu luang, tapi juga dilombakan. Beberapa festival budaya daerah bahkan menjadikan nyethe sebagai cabang perlombaan tersendiri. Komunitas-komunitas pembuat motif cethe mulai bermunculan dan memperkenalkan karya mereka melalui media sosial, bahkan di pasar nasional.

    Tradisi ini adalah potret bagaimana budaya lokal tetap hidup dan beradaptasi. Ia bukan hanya bentuk estetika, tapi juga perlawanan terhadap homogenisasi budaya modern. Cethe mengajarkan kesabaran, kreativitas, dan—yang terpenting—kebersamaan.

    Edukasi: Warisan yang Perlu Dijaga

    Meski berakar pada kebiasaan merokok dan minum kopi, budaya nyethe dapat didekati dari sisi seni dan budaya, bukan sekadar gaya hidup. Banyak anak muda yang mulai belajar teknik nyethe, bukan untuk dihisap, tapi sebagai bagian dari ekspresi seni visual yang bisa diapresiasi siapa pun. Bahkan beberapa seniman lokal sudah mulai membuat karya berbasis cethe sebagai lukisan atau ornamen.

    Dengan tetap memberikan edukasi akan bahaya merokok, pelestarian cethe bisa diarahkan pada aspek artistik dan nilai kebersamaan yang dikandungnya. Karena pada akhirnya, setiap cangkir kopi dan batang rokok yang dihias cethe membawa pesan: bahwa budaya adalah tentang rasa, kebersamaan, dan warisan.

  • Radar Blitar Ucapkan Selamat Hari Jadi Kabupaten Blitar ke – 701. Sinergi Untuk Blitar yang Digdaya!

    Radar Blitar Ucapkan Selamat Hari Jadi Kabupaten Blitar ke – 701. Sinergi Untuk Blitar yang Digdaya!

    Radar Blitar – Momen hangat dan penuh semangat terjadi di Pendopo Agung Ronggo Hadinegoro hari ini. Direktur Jawa Pos Radar Blitar, Aris Sudanang, bersama General Manager Andrian Sunaryo dan rombongan, secara khusus datang bersilaturahmi dan mengucapkan Selamat Hari Jadi Kabupaten Blitar ke-701.

    Kehadiran rombongan Jawa Pos Radar Blitar ini disambut langsung oleh Bupati Blitar Drs. H. Rijanto, MM dan Wakil Bupati H. Beky Herdihansah. Dalam suasana penuh kekeluargaan, Bupati Blitar menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas perhatian serta dukungan yang telah diberikan oleh Jawa Pos Radar Blitar kepada Kabupaten Blitar.

    “Semoga sinergi yang sudah terjalin baik ini bisa terus berjalan dan semakin erat ke depannya. Terima kasih atas komitmen Radar Blitar dalam ikut mengawal pembangunan dan kemajuan daerah,” ujar Bupati Rijanto.

    Tahun ini, peringatan Hari Jadi Kabupaten Blitar mengangkat tema “Blitar Digdaya, Jaya Linuwih”, sebagai simbol semangat untuk terus membangun Blitar menjadi daerah yang tangguh, unggul, dan berdaya saing tinggi.

    Dengan usia yang telah mencapai 701 tahun, Kabupaten Blitar terus berbenah dan berinovasi untuk mewujudkan pelayanan publik yang lebih baik, pembangunan yang merata, serta masyarakat yang sejahtera.

    Selamat Hari Jadi Kabupaten Blitar ke-701! Semoga semangat Blitar Digdaya, Jaya Linuwih terus menjadi nyala semangat dalam setiap langkah pembangunan.

  • Kabupaten Blitar Genap Berusia 701 Tahun: BLITAR DIGDAYA, JAYA LINUWIH Jadi Semangat Baru Pembangunan

    Kabupaten Blitar Genap Berusia 701 Tahun: BLITAR DIGDAYA, JAYA LINUWIH Jadi Semangat Baru Pembangunan

    Radar Tulungagung / BLITAR — Kabupaten Blitar hari ini, 5 Agustus 2025, resmi memperingati Hari Jadi ke-701 dengan tema besar “Blitar Digdaya, Jaya Linuwih”. Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan menjadi cerminan semangat pembangunan dan kebangkitan daerah yang kini dinahkodai duet kepemimpinan Bupati Drs. H. Rijanto, MM. dan Wakil Bupati H. Beky Herdihansah.
    Sejak dilantik hampir lima bulan lalu, pasangan Rijanto – Beky yang meraih dukungan lebih dari 70 persen suara rakyat Blitar, langsung tancap gas dalam menata ulang arah pembangunan daerah. Tak hanya fokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada penguatan sumber daya manusia (SDM) untuk mendorong kualitas ekonomi inklusif dan daya saing daerah.
    “Kita harus tetap semangat agar bisa membangun Kabupaten Blitar yang luar biasa,” tegas Bupati Rijanto dalam sambutannya, seperti dilansir Radar Blitar.
    Senada dengan itu, Wakil Bupati Beky menambahkan, “Blitar tahun 2025 ini genap berusia 701 tahun, perjalanan panjang untuk terus berjuang dan bebenah.”
    Semangat itu tercermin dari berbagai gebrakan yang sudah dilakukan. Mulai dari perbaikan jalan dan fasilitas publik, hingga digelarnya event-event nasional berskala sport tourism, seperti balap sepeda dan motor cross, yang bahkan melibatkan sejumlah tokoh nasional.
    Tak hanya membangun fisik, Pemkab Blitar juga terus mendorong partisipasi dan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan. Hal itu diamini oleh Pj. Sekretaris Daerah Kabupaten Blitar, Khusna Lindarti, S.Sos., M.Si, yang berharap bertambahnya usia ini membawa berkah dan kemajuan bagi seluruh warga.
    “Dengan semakin bertambahnya usia Blitar, mudah-mudahan warganya semakin jaya, semakin sejahtera. Itu yang kita harapkan,” ujarnya.
    Dengan semangat 701 tahun Blitar Digdaya, masyarakat dan pemimpin Kabupaten Blitar menatap masa depan dengan optimisme tinggi. Harapannya, segala ikhtiar yang dilakukan mampu mewujudkan cita-cita luhur: Blitar yang unggul, sejahtera, dan bermartabat — Jaya Linuwih.

  • Di Balik Tawa Lomba 17-an, Ada Jejak Perjuangan dan Filosofi Kehidupan

    Di Balik Tawa Lomba 17-an, Ada Jejak Perjuangan dan Filosofi Kehidupan

    Radar Tulungagung – Setiap bulan Agustus, suasana kampung dan kota di Indonesia serempak dipenuhi semarak merah putih. Bendera berkibar, gapura dihias, dan yang paling ditunggu: deretan lomba 17-an yang mengundang tawa dan sorak sorai warga. Tapi di balik semua kemeriahan itu, tahukah kita bahwa lomba-lomba ini menyimpan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar hiburan?

    Lomba-lomba seperti balap karung, makan kerupuk, panjat pinang, tarik tambang, hingga memasukkan paku ke dalam botol, bukan hanya permainan rakyat biasa. Mereka adalah simbol—cerminan kehidupan masa perjuangan, nilai kebersamaan, dan semangat pantang menyerah.

    Panjat pinang adalah simbol gotong royong yang paling kentara. Hadiah diletakkan di puncak batang pinang licin. Tak ada yang bisa naik sendiri. Harus bahu-membahu. Persis seperti para pejuang yang merebut kemerdekaan bersama-sama, bukan sendirian.

    Balap karung, misalnya. Dulu, rakyat jelata hidup dalam keterbatasan. Bahkan karung goni kerap dijadikan alas tidur atau pakaian darurat. Kini, saat lomba balap karung digelar, kita seolah diajak menertawakan masa sulit dengan penuh semangat dan syukur. Bahwa kita pernah susah, tapi tetap bisa tertawa.

    Begitu pula makan kerupuk. Tanpa bantuan tangan, peserta harus menyantap kerupuk yang tergantung dan bergoyang. Sebuah gambaran nyata tentang kesabaran, ketekunan, dan perjuangan rakyat kecil untuk sekadar makan.

    Sementara tarik tambang menggambarkan kekuatan kolektif. Semangat melawan arus, mempertahankan posisi, dan saling percaya antar tim. Filosofi ini mencerminkan bagaimana kemerdekaan tidak datang dari satu arah, melainkan dari kekuatan bersama.

    Dan jangan lupakan lomba memasukkan paku ke dalam botol. Kedengarannya sepele, tapi butuh fokus, kesabaran, dan kendali diri. Seperti cara bangsa ini melangkah: perlahan, tapi pasti.

    Di era sekarang, lomba 17-an juga semakin kreatif. Ada yang menggelar lomba joget TikTok, make-up challenge, bahkan lomba kostum daur ulang. Ini menandakan bahwa kemerdekaan memberi ruang untuk ekspresi dan kreativitas, tanpa meninggalkan akar nilai gotong royong dan kebahagiaan bersama.

    Perayaan kemerdekaan bukan sekadar seremoni. Di lapangan-lapangan desa, di jalanan gang sempit, hingga aula kelurahan, semua menyatu dalam semangat yang sama: merayakan kebebasan, mengenang perjuangan, dan menularkan semangat persatuan.

    Jadi, saat kita tertawa melihat anak-anak jatuh saat balap karung, atau ibu-ibu bersorak saat tarik tambang, ingatlah di balik itu semua, ada sejarah, ada makna, ada Indonesia. MERDEKA!!!

  • Nakama : Lebih dari Sekedar Kalimat Untuk Teman. Nakama adalah Simbol Keluarga, Solidaritas dan Loyalitas dalam menggapai sebuah impian bersama.

    Nakama : Lebih dari Sekedar Kalimat Untuk Teman. Nakama adalah Simbol Keluarga, Solidaritas dan Loyalitas dalam menggapai sebuah impian bersama.

    Radar Tulungagung- Dalam dunia anime One Piece, kata “Nakama” bukan sekadar sebutan untuk teman. Ia jauh lebih dalam—sebuah simbol kepercayaan, kesetiaan, dan perjuangan bersama. Luffy dan kru Topi Jerami saling menjaga bukan karena mereka sekelompok petualang, tapi karena mereka adalah keluarga, keluarga yang dibentuk oleh pilihan, oleh pengorbanan, oleh cinta tanpa pamrih.

    Di balik layar animasi dan dunia fiksi, makna “Nakama” ini sejatinya mencerminkan sesuatu yang sangat nyata dalam kehidupan kita: semangat kebangsaan.

    Indonesia merdeka bukan karena perjuangan satu dua orang. Ia lahir dari semangat kolektif para pejuang para “nakamabangsa yang berbeda latar, suku, agama, dan pulau, tapi satu tujuan: merdeka.

    Seperti Luffy yang tak akan pernah meninggalkan krunya dalam bahaya, para pahlawan kita pun tak berpaling ketika tanah air memanggil. Mereka memilih berdiri bersama, berjuang bersama, dan, jika perlu, gugur bersama.

    Hari ini, di tengah dunia yang terus berubah dan diuji oleh perpecahan dan kepentingan pribadi, kita diajak menghidupkan kembali semangat “nakama” itu.

    Menjadi “nakama” bagi negeri ini artinya:

    • Kita saling jaga, bukan saling curiga.
    • Kita berbagi, bukan saling menjatuhkan.
    • Kita menghargai jasa para pendahulu, bukan melupakan begitu saja sejarah berdarah yang mengantar kita pada kemerdekaan.

    Nasionalisme bukan sekadar cinta bendera. Ia adalah kesediaan untuk menjadi “nakama” bagi tanah air dalam kerja, dalam sikap, dan dalam hati.

    Merdeka bukan hadiah. Ia adalah warisan dari sebuah perjuangan. Maka hari ini, menjadi warga negara yang baik adalah cara kita membalas pengorbanan mereka, cara kita meneruskan cerita, agar Indonesia tetap utuh, tetap berani, tetap merdeka sesuai cita-cita pendahulu Indonesia.

    Karena seperti kata Luffy:

    Aku tak bisa menjadi Raja Bajak Laut tanpa mereka (tanpa nakama-ku)

    Begitu pula kita:

    Indonesia tak akan kuat, tanpa kita, para “nakama”-nya.

  • Bendera Bajak Laut Topi Jerami : Simbol Tertentu atau hanya Tren di Media Sosial?

    Bendera Bajak Laut Topi Jerami : Simbol Tertentu atau hanya Tren di Media Sosial?

    Radar Tulungagung – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia, jagat media sosial diramaikan dengan fenomena tak biasa. Sejumlah tangkapan kamera di berbagai daerah mulai mengibarkan bendera bajak laut “Topi Jerami” dari serial anime One Piece di samping, bahkan kadang di bawah, Sang Saka Merah Putih.

    Bendera berlogo tengkorak dengan topi jerami itu adalah simbol milik karakter Monkey D. Luffy dan kru bajak lautnya. Dalam serial tersebut, simbol ini dikenal sebagai Jolly Roger – lambang kebebasan, solidaritas, dan tekad melawan ketidakadilan.

    Namun, yang menjadi sorotan bukan sekadar popularitas anime-nya. Banyak warganet menilai aksi pengibaran bendera ini sebagai bentuk sindiran halus atas kondisi bangsa saat ini. Semangat Luffy dan kawan-kawan dianggap relevan dengan realita sosial yang dihadapi masyarakat Indonesia.

    Dalam pantauan di media sosial, fenomena ini makin meluas, dari kendaraan umum, truk, hingga rumah yang dihias bendera Jolly Roger. Namun netizen juga harus kritis, jangan jangan hal itu hanya gambar-gambar dari teknologi AI. Karena berdasarkan pantauan dilapangan, bendera jolly roger tidak berkibar di daerah khususnya di wilayah Tulungagung.

    Viralnya bendera jolly roger di media sosial ini membuat beberapa tokok nasional merespon, dilansir dari beberapa media, ada yang menanggapi dengan serius dan ada yang menanggapi hal ini dengan santai karena sebagai kebebasan berekspresi.

    Fenomena ini menandai bagaimana budaya pop kini menjadi media baru bagi masyarakat untuk berekspresi, bahkan dalam momentum hari besar sekalipun. Simbol fiksi bajak laut bisa bermakna dalam ketika dikaitkan dengan keresahan nyata: harga bahan pokok, akses pekerjaan dan kesehatan, hingga kepercayaan publik terhadap institusi negara. Apapun itu bentuk trendnya, sekali lagi bendera ini hanyalah fiksi dan tidak benar-benar ada di dunia nyata.

    Fenomena ini sebenarnya bisa membuat kita bertanya dan berfikir, apakah hal ini sebenarnya bentuk baru dari nasionalisme yang lebih cair, nyeleneh, tapi tetap punya suara? Tanpa mengurangi rasa nasionalisme?

    Apakah Anda melihatnya sebagai bentuk kritik, sekadar tren viral, atau cara unik generasi muda menunjukkan semangat kemerdekaan? Silakan beri komentar Anda di kolom pembaca.

  • Bendera Topi Jerami : Lebih dari Sekadar Tengkorak dan Tulang Silang!

    Bendera Topi Jerami : Lebih dari Sekadar Tengkorak dan Tulang Silang!

    Radar Tulungagung – Dunia One Piece tidak hanya tentang lautan luas, pertempuran seru, atau harta karun legendaris bernama One Piece. Di balik layar petualangan epik itu, ada satu simbol yang menyatukan kru dan menggetarkan hati para penggemar: bendera Bajak Laut Topi Jerami.

    Sekilas, bendera ini tampak sederhana: tengkorak putih bertopi jerami dengan dua tulang menyilang di belakangnya. Tapi jangan salah, simbol ini adalah napas dari semangat kebebasan dan perlawanan dalam dunia bajak laut ciptaan Eiichiro Oda.

    Topi jerami yang bertengger di atas tengkorak bukan hiasan biasa. Ia adalah warisan impian—dari Gol D. Roger ke Shanks, lalu ke Luffy. Dan sekarang, menjadi ikon kru yang menolak tunduk pada kekuasaan dunia, memilih jalan sulit demi kebebasan, persahabatan, dan cita-cita.

    Lebih dari sekadar bendera, kain hitam ini adalah janji. Janji untuk tidak meninggalkan teman, untuk terus berlayar meski badai datang silih berganti, dan untuk tetap teguh meski seluruh dunia menyebut mereka musuh.

    Bendera Topi Jerami pernah menjadi titik balik, saat dikibarkan di tengah ketakutan dan ancaman—seperti dalam peristiwa Enies Lobby. Saat kata-kata tidak mampu lagi menyampaikan tekad, benderalah yang berbicara lantang: “Kami tidak akan menyerah.”

    Menariknya, simbol ini juga telah melampaui dunia fiksi. Bendera Topi Jerami kini sering terlihat di kaus, mural, hingga bendera rally komunitas pecinta anime. Ia menjadi lambang generasi muda yang tak ingin dibatasi—bermimpi besar, setia pada teman, dan menolak hidup biasa-biasa saja.

    Sebuah tengkorak, dua tulang, dan topi jerami. Sederhana, tapi sarat makna. Sebuah bendera yang membisikkan satu pesan:

    “Jangan takut bermimpi, meski dunia menertawakanmu.”

  • “Elusan Jahat di Jalanan : Jangan Diam, Tulungagung Darurat Pelecehan Seksual!”

    “Elusan Jahat di Jalanan : Jangan Diam, Tulungagung Darurat Pelecehan Seksual!”

    Radar Tulungagung. Malam itu harusnya jadi waktu healing bagi salah satu pesepeda perempuan di Tulungagung. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Di tengah kayuhan sepedanya, ia dipaksa mengalami pelecehan—paha sebelahnya dielus oleh tangan jahil pengendara bermotor yang memepet dari belakang. Tidak luka, tapi trauma. Tidak berdarah, tapi menyisakan rasa takut yang dalam.

    Pelecehan seksual sekecil apapun bukan hal sepele. Fenomena seperti ini sering dianggap kecil karena tidak mengakibatkan luka fisik, namun justru lebih berbahaya karena mengendap dalam mental korban. Menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, sentuhan tanpa persetujuan termasuk dalam pelecehan seksual fisik. Artinya, perbuatan itu melanggar hukum.

    Tindakan pengendara bermotor tersebut bukan hanya tak sopan, tapi termasuk penyimpangan perilaku sosial. Pelaku menyalahgunakan ruang publik sebagai tempat mencari kepuasan pribadi tanpa empati terhadap korban. Ini mencerminkan minimnya edukasi gender dan empati sosial, serta budaya permisif yang seolah membenarkan pelecehan asal tak terlihat kamera.

    Kenapa Tulungagung harus waspada? Kejadian ini bukan yang pertama. Berbagai laporan serupa bermunculan di grup WhatsApp komunitas pesepeda, pelari, hingga pelajar. Wilayah yang minim lampu jalan, tidak adanya CCTV, dan kurangnya patroli menjadi celah kejahatan. Jika ini terus didiamkan, maka bukan tidak mungkin angka pelecehan akan meningkat, membuat korban makin takut bersuara.

    Untuk masyarakat : Jangan anggap sepele. Pelecehan mikro adalah permulaan dari kejahatan yang lebih besar.

    Untuk korban : Suaramu penting. LAPORKAN, walau hanya dielus, karena tubuhmu bukan milik siapa-siapa. Jadi tolong LAPORKAN kepada Pihak Berwajib.

    Untuk aparat dan pemda: Penegakan hukum, pemasangan CCTV, dan edukasi harus jadi prioritas. Jangan tunggu viral baru bergerak.

    Jika kota ini ingin aman, maka kita harus mulai berani bicara. Elusan itu bukan kasih sayang, tapi kejahatan. Dan Tulungagung terlalu berharga untuk dibiarkan jadi tempat pelaku menyebar takut di antara kayuhan dan langkah perempuan.

  • Kabel Semakin Semrawut, Apakah Itu Bagian Dari Kode Alam?

    Kabel Semakin Semrawut, Apakah Itu Bagian Dari Kode Alam?

    Radar Tulungagung, Jika kamu sering lewat jalan utama di Tulungagung, coba deh tengok ke atas. Pemandangan langit kota kita bukannya langit biru bersih, tapi justru kayak “jaring-jaring Spiderman yang selesai melawan pelaku kejahatan.” Kabel-kabel menggantung semrawut, berbelit, miring ke sana-sini, dan nggak jarang malah nyaris jatuh ke jalan.

    Ini bukan cuma soal estetika kota. Tapi juga soal keselamatan. Di beberapa titik, kabel-kabel itu sudah tidak pada tempatnya, ada yang menjuntai, bahkan mulai di tumbuhi rerumputan, atau parahnya lagi, melintang rendah di jalan. Ngeri nggak sih kalau tiba-tiba nyangkut pengendara?

    Kita ini hidup di kota yang katanya sedang berkembang. Tapi ternyata wajah kotanya malah kayak benang kusut yang nggak pernah diurus. Pertanyaannya: siapa yang bertanggung jawab? Atau jangan-jangan kita semua sudah terlalu biasa melihat kekacauan sampai akhirnya cuek?

    Yang lebih aneh, kabel-kabel itu disinyalir banyak yang sudah mati alias bekas jaringan lama. Tapi dibiarkan menggantung begitu saja. Bukannya dibersihkan, malah terus ditambah sama kabel baru. Ini sudah waktunya ada pembenahan. Mimpi Tulungagung jadi kota cantik dan nyaman nggak akan tercapai kalau urusan kabel aja nggak bisa ditata. Harus ada sistem dan aksi nyata. Jangan nunggu sampai ada korban dulu baru heboh.

    Ini bukan hanya soal teknis kelistrikan atau perwifian. Ini soal bagaimana kita membangun peradaban kota. Kota yang baik bukan hanya yang punya mall, trotoar, atau videotron, tapi kota yang rapi dan aman bahkan dalam hal-hal kecil seperti urusan kabel.

    Mimpi Tulungagung jadi kota cantik dan nyaman akan jauh dari kalimat tercapai kalau urusan kabel aja nggak bisa ditata. Harus ada sistem dan aksi nyata. Harus ada kolaborasi nyata antarlembaga, jangan lagi semua berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi. Dan yang paling penting, harus ada political will dari para pengambil kebijakan. Karena ketika kabel semrawut dibiarkan, itu bukan hanya soal gangguan visual, tapi simbol dari betapa semrawutnya manajemen kota kita.

  • CIMB Niaga Hadirkan Layanan Digital Lengkap di Tulungagung, Dorong UMKM dan Gaya Hidup Cashless

    CIMB Niaga Hadirkan Layanan Digital Lengkap di Tulungagung, Dorong UMKM dan Gaya Hidup Cashless

    TULUNGAGUNG – PT Bank CIMB Niaga Tbk terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi perbankan digital ke berbagai daerah, termasuk Tulungagung, Jawa Timur. Dengan semangat #WorkFromHeart, bank swasta nasional terbesar kedua di Indonesia ini membawa sederet solusi digital untuk menjawab kebutuhan finansial masyarakat, dari individu, pelaku UMKM, hingga korporasi.

    Lewat aplikasi OCTO Mobile dan OCTO Clicks, nasabah kini bisa menikmati kemudahan bertransaksi, membuka tabungan, mengajukan pinjaman, hingga berinvestasi—semuanya hanya dalam genggaman tangan, kapan pun dan di mana pun.

    Tak hanya itu, bagi pelaku usaha, CIMB Niaga menghadirkan layanan BizChannel@CIMB, yang bisa diakses via website maupun mobile. Solusi ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan transaksi bisnis yang kompleks seperti cash management dan trade finance, menjadikannya pusat pengelolaan keuangan yang akurat dan efisien.

    Sedangkan untuk para pelaku UMKM dan pemilik toko, tersedia OCTO Merchant—aplikasi transaksi cashless dengan sistem QRIS, yang langsung mengirim hasil pembayaran ke rekening merchant secara real-time. Praktis, cepat, dan aman, sekaligus membantu menjaga arus kas usaha tetap sehat.

    “Tulungagung memiliki potensi ekonomi yang besar, terutama dari sektor UMKM, perdagangan, kerajinan lokal, hingga kuliner. CIMB Niaga hadir dengan solusi lengkap untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat,” ungkap Rhena Octaria, Head of Region Jawa Timur CIMB Niaga dalam acara Media Gathering di Tulungagung, Rabu (30/7/2025).

    Kehadiran layanan digital ini semakin melengkapi operasional kantor cabang CIMB Niaga yang berlokasi di Jl. Panglima Sudirman, Tulungagung. Sinergi layanan fisik dan digital menjadi kunci utama CIMB Niaga dalam mewujudkan layanan perbankan yang Simpler, Better, Faster.

    Tak hanya soal layanan finansial, CIMB Niaga juga aktif menggelar kegiatan sosial bernilai tambah. Salah satunya adalah perayaan Imlek yang turut menyemarakkan rangkaian menuju 70 Tahun CIMB Niaga pada 26 September 2025 mendatang.

    Komitmen untuk Bisnis Berkelanjutan. Tak sekadar berinovasi, CIMB Niaga juga serius menjalankan prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (LST). Hingga kuartal I/2025, bank ini telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp56,6 triliun untuk mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon dan mewujudkan Sustainable Development Goals (SDG).

    “Bisnis berkelanjutan menjadi bagian penting dari DNA CIMB Niaga. Kami ingin menciptakan nilai bukan hanya untuk nasabah, tapi juga untuk lingkungan dan generasi masa depan,” ujar Hery Kurniawan, Head of Corporate Communications CIMB Niaga.

    Kinerja Positif di Awal 2025. Inovasi yang dilakukan hingga ke daerah-daerah seperti Tulungagung berkontribusi pada kinerja positif CIMB Niaga secara nasional. Pada kuartal I/2025, bank ini mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp2,2 triliun, naik 3,2% dari tahun sebelumnya.

    Pertumbuhan kredit mencapai Rp230,1 triliun, dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp254,2 triliun dan rasio CASA tetap kuat di angka 67,4%. Di sektor syariah, CIMB Niaga Syariah juga mencatatkan pembiayaan Rp59 triliun dan DPK Rp50,2 triliun, tumbuh signifikan dari segmen ritel.

    Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial, CIMB Niaga juga bekerja sama dengan UNICEF untuk mendukung program penanganan stunting di Indonesia, terutama di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Tim dukungan pelanggan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja!