21 Tahun Bertahan, Pengrajin Payung Kertas Blitar Ini Produksi 60 Buah Sehari, Jadi Simbol Ritual Pemakaman hingga Media Lukis SD

Published on

spot_img

RADAR BLITAR – Di tengah gempuran produk pabrikan dan perlengkapan modern, eksistensi pengrajin payung kertas Blitar ini tetap bertahan. Adalah Asbani, 71, warga Kelurahan Bendo, Kecamatan Kepanjenkidul, yang sudah 21 tahun menekuni kerajinan payung kertas untuk kebutuhan ritual pemakaman.

Di usia senjanya, pengrajin payung kertas Blitar tersebut masih setia memproduksi payung secara manual di halaman belakang rumahnya yang sederhana. Tempat berukuran sekitar 4×7 meter itu menjadi saksi ketelatenan Asbani menjaga tradisi di tengah arus modernisasi.

Kerajinan payung kertas Blitar yang digelutinya bukan sekadar usaha ekonomi. Lebih dari itu, ada nilai budaya dan filosofi yang terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.

Berawal dari Pesanan, Berlanjut Jadi Mata Pencaharian

Asbani mengisahkan, ketertarikannya membuat payung kertas bermula pada 2005. Saat itu, dia sebenarnya dikenal sebagai pengrajin mainan anak-anak seperti katak dan kanguru.

“Awalnya ada yang pesan minta dibuatkan payung kertas. Saya coba belajar sendiri, ternyata bisa dan akhirnya keterusan sampai sekarang,” ujarnya.

Baca Juga  Radar Blitar-Umina Kerja Sama Majukan Pendidikan Blitar

Dari pesanan pertama itulah, usaha payung kertas berkembang. Lambat laun, permintaan datang secara rutin, terutama untuk kebutuhan upacara pemakaman atau tradisi pesarean masyarakat Jawa.

Dalam tradisi tersebut, payung kertas memiliki makna simbolis sebagai perlindungan bagi arwah menuju keabadian. Karena itulah, keberadaannya masih dibutuhkan hingga kini.

Proses Produksi Butuh Ketelatenan Tinggi

Setiap hari, aktivitas Asbani dimulai sejak pagi buta. Sebelum memegang bambu dan kertas, dia terlebih dahulu mencari rumput untuk pakan sapi dan kambing peliharaannya. Barulah sekitar pukul 10.00 WIB, proses produksi dimulai, dibantu sang istri.

Pembuatan payung kertas tidak bisa dilakukan sembarangan. Dibutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi. Sejumlah alat sederhana digunakan, seperti mesin bubut, mesin dowel, gergaji, dan pisau.

Untuk gagang payung, Asbani memilih kayu mlinjo karena teksturnya kuat. Sementara kerangkanya dibuat dari bambu yang diserut halus agar mudah dibentuk dan tidak melukai tangan. Bagian penutup menggunakan kertas pembungkus kendang yang ringan namun cukup kuat.

Baca Juga  Blitar Umrah Departure Postponed as Middle East Conflict Raises Safety Concerns

“Kuncinya harus telaten, apalagi saat membersihkan bambu. Namanya pengrajin itu harus sabar,” ungkapnya.

Dalam sehari, pengrajin payung kertas Blitar ini mampu memproduksi rata-rata 60 buah payung. Harga jualnya pun relatif terjangkau, mulai Rp 11 ribu hingga Rp 20 ribu per buah, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan.

Pasar Lokal hingga Luar Daerah

Meski dikerjakan secara tradisional, pasar payung kertas buatan Asbani tidak hanya di Blitar. Permintaan rutin datang dari sejumlah daerah seperti Nganjuk, Tulungagung, hingga Kediri.

Hal ini menunjukkan bahwa produk kerajinan tradisional masih memiliki tempat tersendiri di masyarakat. Terutama untuk kebutuhan ritual adat yang tidak bisa digantikan produk modern.

Selain untuk upacara pemakaman, kini payung kertas buatannya juga mulai diminati sekolah dasar di Blitar. Payung tersebut dijadikan media lukis edukatif agar siswa lebih mengenal tradisi lokal.

Baca Juga  Blitar Expands Community Nutrition Centers to All Districts With 80 Units Operating

Anak-anak biasanya menghias payung dengan motif dan warna sesuai kreativitas masing-masing. Cara ini dinilai efektif mengenalkan budaya sekaligus melatih keterampilan seni.

Pesan untuk Generasi Muda

Di tengah usianya yang menginjak 71 tahun, semangat Asbani tak luntur. Dia berharap generasi muda tidak ragu memulai usaha, meski dari hal sederhana.

“Anak muda harus semangat dan kreatif. Orang usaha itu kuncinya satu, harus telaten,” pesannya.

Baginya, bertahan selama dua dekade sebagai pengrajin payung kertas Blitar bukanlah hal mudah. Namun dengan ketekunan dan konsistensi, usaha tradisional tetap bisa hidup berdampingan dengan modernisasi.

Kisah Asbani menjadi bukti bahwa warisan budaya tidak selalu harus dikemas dalam bentuk besar dan megah. Dari halaman rumah sederhana berukuran 4×7 meter, tradisi bisa terus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan ke generasi berikutnya.

 

Latest articles

popular

Myanmar to host tourism expo at the end of 2018

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia,...

Flights to these big cities will be mega cheap in November

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia,...

The Essential Back-to-Work Style Guide for Men

To understand the new politics stance and other pro nationals of recent times, we...

Red is a must-have trend this season and not just for Christmas

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia,...

More like this

Literacy Drive in Tulungagung Expands as Public Library Offers More Than 861,000 Book Collections

TULUNGAGUNG - Literacy drive efforts in Tulungagung continue to expand as the local library agency...

Young Farmers in Tulungagung Remain Below 10 Percent as Regeneration Challenge Grows

TULUNGAGUNG - Young farmers in Tulungagung still account for less than 10 percent of the...

Tulungagung Targets Rp546 Billion Investment as Food and Beverage Sector Leads Growth

TULUNGAGUNG - Tulungagung investment is expected to reach Rp546 billion in 2026, as the...