Tag: Event

  • Florenia Maharani, Koreografer Karnaval Asal Tulungagung yang Berbagi Energi Kreatif di Berbagai Event

    Florenia Maharani, Koreografer Karnaval Asal Tulungagung yang Berbagi Energi Kreatif di Berbagai Event

    TULUNGAGUNG – Di balik semarak pawai dan karnaval budaya yang kian marak di berbagai daerah, ada sosok-sosok kreatif yang bekerja dalam senyap.

    Dialah Florenia Maharani, 19, seorang cewek yang menjelma menjadi koreografer pawai, untuk memastikan setiap langkah, ayunan tangan, hingga senyum peserta tampil harmonis dan berjiwa.

    Gadis asal Desa/Kecamatan Ngunut, Tulungagung, ini mulai dikenal luas sebagai koreografer muda di berbagai event karnaval hingga berbagai daerah.

    Gerakan energik yang berpadu dengan unsur budaya lokal menambah sajian unik untuk gelaran pawai agar tidak membosankan.

    “Awalnya aku cuma penari, dan coba-coba ketika dapat tawaran melatih gerakan pawai,” cerita Florenia sambil tersenyum mengenang masa awalnya.

    Tahun 2022 menjadi awal perjalanan barunya.

    Saat itu, dia diminta melatih tim karnaval di daerah Sumberejo, Tulungagung, meski sebelumnya lebih banyak menekuni tari tradisional dan ekstrakurikuler tari di sekolah dasar.

    “Dari situ mulai ketagihan. Ternyata melatih itu seru. Bisa mencipta, bukan cuma menirukan,” ujarnya.

    Sejak itu, tawaran datang silih berganti.

    Dari satu desa ke desa lain, hingga kini dia mulai dipercaya menjadi pelatih dan penata koreografi untuk event di berbagai kota.

    Meskipun, dia merasa melatih karnaval berbeda dari menari di panggung.

    “Kalau tari, semua penari udah bisa gerak. Tapi karnaval itu pesertanya warga biasa, ada anak muda, ada ibu-ibu, bahkan bapak-bapak. Jadi harus sabar banget,” katanya sambil tertawa kecil.

    Kesulitannya bukan hanya soal waktu, melainkan juga tema.

    Mengingat terkadang diberi tema besar seperti Kanjeng Ratu Kidul atau legenda Nusantara.

    Dia menggelar latihan pada malam hari selepas jam kerja para peserta.

    “Sekali latihan 2 jam. Biasanya lima hari harus jadi. Jadi kadang aku keliling dari satu desa ke desa lain sampai larut malam,” ungkapnya.

    Kini, Florenia biasa melatih 45 hingga 50 orang per grup, bahkan bisa menggarap tiga grup berbeda dalam satu periode karnaval.

    “Kalau satu grup 50 orang, bayangkan saja kalau tiga grup. Harus bisa bagi waktu, tenaga, dan ide,” katanya.

    Kerja keras itu terbayar. Beberapa grup asuhannya berhasil menyabet juara 1 dan 2 dalam lomba karnaval.

    Namun yang membuatnya bangga bukan hanya piala, melainkan proses di baliknya.

    “Aku senang kalau lihat mereka tampil percaya diri. Dari yang awalnya nggak bisa gerak, akhirnya bisa tampil kompak di depan banyak orang,” katanya.

    Dia mengaku menikmati setiap perjalanannya menjadi seorang koreografer karnaval yang kini masih jarang di Tulungagung.

    “Seru aja. Setiap kota punya ciri khas sendiri. Aku bisa belajar budaya baru, kostum baru, bahkan logat peserta pun beda-beda,” ujarnya tertawa.

    Perjalanan dari satu daerah ke daerah lain membuatnya semakin yakin bahwa seni tidak mengenal batas.

    “Melatih di banyak tempat itu bukan cuma soal pekerjaan, tapi juga pengalaman hidup,” katanya.

    Kini, Florenia lebih banyak melatih daripada menari.

    Dia menilai profesi koreografer karnaval justru membuka peluang yang lebih luas.

    “Kalau nari, tampil sekali selesai. Tapi kalau melatih, aku bisa jual koreo, bisa terus berkarya,” jelasnya. Pendapatan pun meningkat berkali lipat. “Satu minggu bisa tiga sampai empat kali pertemuan. Lumayan banget,” katanya jujur.

    Namun yang paling ia banggakan adalah ketika orang lain mulai mengenali ciri khas dari garapannya.

    “Kalau lihat di TikTok, banyak yang komentar ‘ini gerakan khas kak Flo’. Aku senang banget. Berarti karyaku punya identitas,” ucapnya sambil tersenyum. (*/c1/rka)

  • Festival Jaranan Trenggalek Dapat Apresiasi, Pemkab dan Masyarakat Wajib Berkomitmen Jaga Tradisi

    Festival Jaranan Trenggalek Dapat Apresiasi, Pemkab dan Masyarakat Wajib Berkomitmen Jaga Tradisi

    TRENGGALEK – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek jangan asal melaksanakan event ekonomi kreatif.

    Hal tersebut dilakukan agar mendapat perhatian dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

    Itu seperti Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) yang dinilai keberlangsungannya selama hampir tiga dekade menjadi modal penting dalam pelestarian budaya sekaligus penggerak ekonomi lokal.

    Sekretaris Kemenparekraf sekaligus Sekretaris Utama Badan Ekonomi Kreatif, Dessy Ruhati, menekankan bahwa festival jaranan tak lagi sebatas pertunjukan hiburan.

    “Festival Jaranan Trenggalek Terbuka ini merupakan sebuah ekosistem ekonomi kreatif. Bukan hanya seni pertunjukan, tetapi juga menggerakkan pelaku kuliner, kriya, hingga subsektor lain,” ujarnya.

    Menurutnya, keberlanjutan festival menunjukkan adanya komitmen masyarakat dan pemerintah daerah dalam menjaga tradisi sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat, terutama melalui promosi digital.

    Harapan agar festival ini bisa menembus kancah internasional turut disuarakan.

    “Harapannya Festival Jaranan ini tidak hanya berhenti sebagai event nasional, melainkan juga mampu gaung di level internasional,” lanjut Dessy.

    Sementara itu, Asisten Deputi Strategi Event Kemenparekraf, Fransiskus Handoko, menyebut Festival Jaranan Trenggalek berpeluang masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.

    Konsistensi penyelenggaraan yang panjang dinilai menjadi kekuatan tersendiri.

    “Tahun ini Trenggalek mengusulkan untuk masuk salah satu event KEN. Dengan pengalaman 29 tahun, event ini berpotensi naik kelas menuju event nasional bahkan internasional,” jelas Fransiskus.

    Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dukungan nyata pemerintah perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas penyelenggaraan.

    Salah satunya melalui kemudahan perizinan dan pendanaan pariwisata yang tidak hanya bersumber dari APBN.

    “Dukungan itu penting agar kualitas event bisa ditingkatkan. Trenggalek patut dicatat karena konsistensinya menjaga budaya lewat festival ini,” pungkasnya. (kho/jaz)

  • Ring of Lawu 2025: Tim Lari Tulungagung Bawa “Supporter Special”, Bikin Lomba Tambah Greget!

    Ring of Lawu 2025: Tim Lari Tulungagung Bawa “Supporter Special”, Bikin Lomba Tambah Greget!

    Radar Tulungagung – Event lari bergengsi Ring of Lawu 2025 kali ini bakal terasa lebih hangat—dan mungkin juga lebih heboh—khususnya bagi tim pelari asal Tulungagung. Bukan hanya karena jalur larinya yang menantang, tapi karena masing-masing peserta membawa supporter spesial… yaitu pasangan mereka sendiri!

    Kalau biasanya lari itu jadi ajang “me time” alias kabur sejenak dari rutinitas dan drama rumah tangga, lha kali ini justru sumber drama ikut dibawa! “Berlari adalah cara keluar dari masalah… Tapi lha ini, masalahnya malah dibawa sendiri,” canda netizen yang ikut menanggapi kabar unik ini. Wkwkwkwk.

    Pak Ketua, sapaan akrab Yeyen Dwianto, menyampaikan bahwa kehadiran pasangan justru menjadi penyemangat tersendiri. “Biasanya ikut event lari itu ya buat refreshing, menjauh dari pasangan. Lah ini, pasangan malah diajak! Tapi serius, ini jadi booster semangat buat kami. Siapa tahu dengan ikutnya istri, kami bisa tampil maksimal dan bawa pulang hasil terbaik,” ungkapnya sambil tertawa.

    Sementara itu, Bu Putri, istri Pak Ketua yang juga menjadi supporter utama, tak mau kalah komentar. “Enak aja, mau senang-senang sendiri! Kami para istri harus ikutlah. Tenang, kami akan siapkan semua, dari kostum sampai masakan spesial buat suami masing-masing. Pokoknya, kalau gagal finish, bukan salah kami ya. Wkwkwkwk.”

    Event Ring of Lawu 2025 ini pun akan menjadi lebih dari sekadar ajang adu stamina—tapi juga ajang bukti cinta, teamwork rumah tangga, dan (siapa tahu) tempat lahirnya drama komedi romantis ala pelari dan pasangannya.

    Yang jelas, buat tim Tulungagung, lari kali ini bukan hanya soal mencapai garis finish—tapi juga soal bersama siapa kamu melangkah dari kilometer pertama.

  • Kadispora Tulungagung Beri Semangat kepada Squad Tulungagung untuk Event Ring of Lawu 2025

    Kadispora Tulungagung Beri Semangat kepada Squad Tulungagung untuk Event Ring of Lawu 2025

    Radar Tulungagung – Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kabupaten Tulungagung, Achmad Mugiyono, S.STP., MM., memberikan dukungan moril dan motivasi kepada para pelari asal Tulungagung yang tergabung dalam Squad Tulungagung menjelang keikutsertaan mereka dalam ajang lari jarak jauh Ring of Lawu 2025 pada 26-27 Juli 2025.

    Dalam sambutannya, Mas Mamad sapaan akrab kadispora Tulungagung menegaskan pentingnya semangat sportivitas dan menjadikan ajang ini sebagai sarana memperluas jaringan dan silaturahmi antar komunitas pelari dari berbagai daerah.

    “Event ini bukan hanya soal kompetisi, tetapi juga tentang kebersamaan dan memperkenalkan bahwa Tulungagung juga aktif dalam kegiatan olahraga lari. Kita rutin menggelar event mingguan seperti Friday Running setiap hari Jumat, yang diikuti oleh berbagai kalangan,” ujarnya.

    Kadispora juga menekankan pentingnya menjaga kondisi fisik selama mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. “Tetap jaga kesehatan, karena keselamatan adalah hal yang paling utama. Jangan paksakan diri di luar batas kemampuan,” pesan Mas Mamad kepada seluruh anggota Tulungagung Squad.

    Sementara itu, salah satu anggota Squad Tulungagung, Enggar, menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang diberikan oleh Kadispora. “Kami sangat mengapresiasi perhatian dan dukungan penuh dari Mas Mamad. Semoga semua peserta bisa menyelesaikan lomba dengan selamat, sehat, dan menunjukkan performa terbaik,” ujar Enggar penuh optimisme.

    Dengan semangat kebersamaan, Tulungagung Squad siap mengharumkan nama daerah dalam Ring of Lawu 2025. “Sampai jumpa di garis finish,” tutup mereka dengan semangat.

Tim dukungan pelanggan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja!