TULUNGAGUNG – Kisah perjuangan dan bakat luar biasa para siswa tunarungu Tulungagung dari SLB B Kelurahan Tamanan kembali mencuri perhatian publik. Pada pentas seni yang digelar Selasa (10/2), para siswa penyandang disabilitas tersebut sukses membawakan empat karya tari sekaligus. Mereka tampil percaya diri, luwes, dan penuh penghayatan, meskipun tidak dapat mendengar irama musik seperti penari pada umumnya.
Di balik penampilan memukau itu, tersimpan proses panjang yang penuh ketekunan, latihan intensif, dan solidaritas kuat antar sesama siswa. Pelatih tari SLB B Tulungagung, Aulia Renata, mengungkapkan bahwa pembuatan karya tari untuk siswa tunarungu membutuhkan pendekatan berbeda. Proses persiapan pentas memakan waktu satu bulan, dengan tujuh kali latihan intens yang harus mereka jalani dengan disiplin tinggi.
“Untuk proses penciptaan karya baru ini sekitar satu bulan. Yang benar-benar intens itu sekitar tujuh kali pertemuan,” ujar Aulia.
Latihan dengan Bahasa Isyarat dan Kebersamaan
Aulia menegaskan bahwa kekuatan utama dalam proses latihan bukan terletak pada instruksi pelatih semata, melainkan pada solidaritas para siswa. Mereka saling mengingatkan, saling membantu, dan saling memperbaiki gerakan melalui bahasa isyarat yang mereka gunakan sehari-hari.
“Ketika saya memberi instruksi, teman-teman yang lain itu saling beri, saling kopak. Mengingatkan kalau ada gerakan yang kurang. Jalinan komunikasi mereka itu kuat, meskipun saya sendiri tidak begitu paham bahasa isyarat,” tuturnya.
Solidaritas itu pula yang membuat kemampuan komunikasi nonverbal mereka menjadi sangat kuat. Meski memiliki keterbatasan dalam pendengaran, kemampuan mereka memahami ritme lewat visual dan gerak tubuh sangat luar biasa.
Empat Karya Tari dengan Karakter Berbeda
Dalam pentas tersebut, para siswa tampil membawakan empat karya tari yang masing-masing disesuaikan dengan usia, kemampuan, dan karakter gerak mereka.
- Tari Gugur Gunung, dibawakan oleh siswi kelas 1 dan 3 SD.
- Tari Gambyong, dimainkan oleh siswa kelas 5 dan 6 SD hingga SMP.
- Tari Reog Kendang, tarian khas Kabupaten Tulungagung yang dibawakan oleh siswa SD dan SMP.
- Turangga Karna Seta, karya terbaru yang memiliki makna mendalam.
Tarian terakhir bernama Turangga Karna Seta. Aulia menjelaskan bahwa “Seta” menggambarkan kesucian, sementara “Karna” berarti pendengaran. Meski para penari tidak dapat mendengar secara fisik, mereka mampu menghayati karya tari melalui getaran irama dan instruksi gerak.
“Saya berharap, meskipun secara fisik mereka tidak bisa mendengar, tapi mereka tetap bisa menghayati karya tari,” kata Aulia.
Durasi Pendek dan Struktur Gerak Tersegmentasi
Dalam menciptakan karya tari bagi penyandang tunarungu, banyak aspek yang harus disesuaikan. Salah satunya adalah durasi tarian, yang dibuat lebih singkat—sekitar empat setengah menit.
“Tingkat konsentrasi anak-anak tunarungu tidak bisa disamakan dengan rekan-rekan dengar. Jadi durasinya sengaja pendek supaya mereka lebih efektif, lebih fokus, dan lebih powerful,” jelasnya.
Selain durasi, struktur gerak tarian dibuat lebih tersegmentasi. Gerakan tidak dieksplorasi secara bebas seperti tari kontemporer, tetapi dibagi ke dalam pola-pola yang jelas dan berulang agar mudah diingat.
“Segmentasi gerak membantu mereka mengingat materi. Perpindahan tempo dan level gerak dilakukan bertahap. Saya selalu mempertimbangkan kekuatan tubuh, daya tangkap, dan kemampuan mereka menyerap materi,” ujar Aulia.
Belajar Getaran Irama Lewat Pecut dan Jaran Kepang
Ada hal menarik dalam pentas kali ini. Untuk pertama kalinya, para siswa tunarungu diajarkan menggunakan properti tari seperti jaran kepang dan pecut. Properti ini biasanya menghasilkan suara yang menjadi patokan ritme bagi penari normal.
Namun, bagi siswa tunarungu Tulungagung, suara itu tidak terdengar. Yang mereka rasakan adalah getaran. Dari sinilah Aulia menciptakan metode latihan khusus untuk membantu mereka menyesuaikan irama.
“Mereka tidak bisa mendengar, tapi bisa merasakan getaran. Jadi, saya ajarkan bagaimana mencari suara pecut yang tepat lewat getaran itu,” jelasnya.
Metode unik ini membuat para siswa mampu memadukan gerak dengan ritme yang mereka rasakan, bukan mereka dengar. Hasilnya, mereka tampil harmonis dalam setiap tarian.
Seni yang Menembus Batas Fisik
Kisah para siswa tunarungu Tulungagung ini tidak hanya menunjukkan bakat dan keterampilan, tetapi juga memperlihatkan kemampuan mereka menembus batas fisik melalui seni. Kehadiran mereka di panggung pentas seni menjadi simbol bahwa keterbatasan bukan hambatan untuk berkarya, melainkan kesempatan untuk membuktikan bahwa semua orang bisa bersinar dengan dukungan yang tepat.

