Tulungagung, sebuah kabupaten di Jawa Timur yang kaya akan keindahan alam dan warisan budaya, menyimpan sejuta cerita dari masa lampau. Salah satu babak paling gemilang dalam sejarahnya adalah ketika daerah ini menjadi bagian integral dari kemaharajaan Majapahit, sebuah imperium maritim yang berjaya di Nusantara pada abad ke-13 hingga ke-16 Masehi. Berada di wilayah strategis dengan kesuburan tanah yang melimpah dan akses ke jalur sungai, Tulungagung bukan sekadar persinggahan, melainkan sebuah wilayah penting yang turut menyumbang pada kejayaan Majapahit.
Menjelajahi sejarah Tulungagung pada era Majapahit membawa kita pada penemuan situs-situs arkeologi, prasasti-prasasti kuno, dan jejak-jejak peradaban yang hingga kini masih bisa disaksikan. Dari sisa-sisa candi hingga artefak yang tersimpan rapi, semua menjadi saksi bisu bagaimana Majapahit meninggalkan warisan yang tak terhapuskan di Bumi Angling Dharma ini.
Mengukir Sejarah di Lembah Sungai Brantas: Posisi Strategis Tulungagung
Terletak di bagian selatan Jawa Timur, Tulungagung diberkahi dengan topografi yang subur, dikelilingi perbukitan di selatan dan barat, serta dialiri oleh beberapa sungai, termasuk anak-anak Sungai Brantas. Pada era Majapahit, sungai adalah urat nadi utama perdagangan, transportasi, dan komunikasi. Lokasi Tulungagung yang relatif dekat dengan aliran Sungai Brantas menjadikannya memiliki nilai strategis yang tinggi.
Wilayah ini mungkin berfungsi sebagai daerah penghasil pangan, terutama beras, untuk menyokong kebutuhan ibu kota Majapahit. Selain itu, sebagai jalur penghubung antara wilayah pedalaman dengan pesisir selatan Jawa, Tulungagung berpotensi menjadi titik penting dalam jaringan ekonomi dan administrasi Majapahit. Keberadaannya di antara pusat-pusat kerajaan di pedalaman dan pelabuhan-pelabuhan di pesisir menjadikannya daerah yang tak bisa diabaikan dalam peta kekuasaan Majapahit.
Petunjuk Abadi dari Batu dan Prasasti: Bukti Arkeologis Era Majapahit
Hubungan antara Tulungagung dan Majapahit bukanlah sekadar spekulasi, melainkan diperkuat oleh berbagai penemuan arkeologis yang luar biasa. Situs-situs purbakala dan prasasti-prasasti kuno menjadi jendela utama untuk memahami peran dan posisi Tulungagung pada masa itu.
Candi Gayatri: Pusat Kehormatan Sang Rajapatni
Salah satu bukti paling kuat dan monumental adalah keberadaan Candi Gayatri, yang terletak di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung. Candi ini diyakini sebagai tempat pemakaman atau pendharmaan dari Dyah Gayatri Rajapatni, istri pendiri Majapahit, Raden Wijaya, sekaligus nenek dari Hayam Wuruk, raja terbesar Majapahit. Keberadaan kompleks percandian yang megah ini menunjukkan betapa pentingnya Tulungagung di mata keluarga kerajaan Majapahit. Pemilihan lokasi ini untuk mendharmakan seorang tokoh sepenting Rajapatni mengindikasikan bahwa Tulungagung pada saat itu adalah wilayah yang dihormati dan mungkin memiliki nilai spiritual tertentu bagi keraton.
Candi Gayatri sendiri adalah kompleks dengan arsitektur khas Majapahit, meski saat ini hanya menyisakan bagian pondasi dan beberapa arca. Kehadiran arca Prajnaparamita, dewi kebijaksanaan dalam ajaran Buddha Mahayana, sering dikaitkan dengan Gayatri Rajapatni yang dikenal sebagai penganut Buddha yang taat.
Prasasti Kuno: Menguak Jejak Administrasi dan Kehidupan
Selain Candi Gayatri, Tulungagung juga menyimpan beberapa prasasti yang memberikan gambaran lebih jelas mengenai kehidupannya di bawah naungan Majapahit:
- Prasasti Campur Darat: Prasasti ini berasal dari tahun 1292 Saka (1370 Masehi) pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Isinya antara lain mengenai penetapan tanah perdikan (simatanda) dan pemberian anugerah kepada penduduk yang telah berjasa. Ini menunjukkan adanya sistem administrasi dan penghargaan dari pusat kerajaan kepada wilayah di Tulungagung.
- Prasasti Lawadan: Meskipun tidak secara langsung menyebutkan “Tulungagung”, Prasasti Lawadan (1359 M) dari masa Hayam Wuruk dan Gajah Mada ini sering dikaitkan dengan wilayah sekitar Tulungagung. Prasasti ini mencatat sumpah setia Gajah Mada (Sumpah Palapa) yang diucapkan di daerah Wengker, dan kemungkinan berkaitan dengan wilayah-wilayah di Jawa Timur bagian selatan.
- Candi Dadi dan Candi Penampihan: Situs candi lain seperti Candi Dadi dan Candi Penampihan yang berada di wilayah Tulungagung dan sekitarnya juga menunjukkan jejak-jejak peradaban Hindu-Buddha yang berkembang pesat pada era Majapahit. Candi-candi ini kemungkinan adalah tempat peribadatan atau pendharmaan tokoh-tokoh penting di wilayah tersebut.
Tulungagung dalam Struktur Pemerintahan Majapahit
Berdasarkan bukti-bukti yang ada, Tulungagung kemungkinan besar merupakan bagian dari wilayah mancanegara Majapahit, yaitu daerah di luar pusat kerajaan yang dikuasai secara langsung oleh raja dan diatur oleh pejabat yang ditunjuk dari pusat atau penguasa lokal yang setia. Dengan keberadaan situs penting seperti Candi Gayatri, dapat diasumsikan bahwa wilayah ini memiliki status khusus, mungkin sebagai bhumi sima (tanah bebas pajak) yang dikelola untuk kepentingan keagamaan atau sebagai wilayah yang dipercayakan kepada anggota keluarga kerajaan.
Peran Tulungagung bukan hanya strategis secara geografis dan ekonomi, tetapi juga ideologis dan spiritual. Keberadaan makam pendharmaan Rajapatni Gayatri akan memberikan legitimasi spiritual dan otoritas keagamaan bagi wilayah tersebut, menjadikannya sebuah wangsa (daerah keramat) yang dihormati di seluruh kemaharajaan.
Warisan Budaya dan Spiritual yang Tersisa
Pengaruh Majapahit di Tulungagung tidak hanya terbatas pada peninggalan fisik. Jejak-jejak budaya dan spiritual yang dibawa oleh peradaban Hindu-Buddha pada masa itu masih terasa hingga kini. Tradisi gotong royong, sistem kemasyarakatan, serta beberapa ritual dan kepercayaan lokal mungkin memiliki akar yang dalam dari masa Majapahit.
Kisah-kisah lokal, mitos, dan legenda yang berkembang di masyarakat Tulungagung, meskipun telah mengalami akulturasi dengan kepercayaan lain, seringkali masih mengandung unsur-unsur dari era Hindu-Buddha yang berpadu harmonis dengan nilai-nilai Islam yang datang kemudian. Kekayaan budaya ini menjadi bukti bahwa peradaban Majapahit bukan sekadar sejarah yang tertulis di buku, tetapi hidup dan berakar dalam kehidupan masyarakat Tulungagung.
Kesimpulan
Sejarah Tulungagung pada era Majapahit adalah babak penting yang menunjukkan bagaimana sebuah wilayah di Jawa Timur turut menjadi bagian dari kejayaan sebuah kemaharajaan besar. Dari Candi Gayatri yang megah hingga prasasti-prasasti kuno yang mengukir kisah kehidupan, semua adalah saksi bisu dari masa lalu yang gemilang.
Memahami sejarah ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang menghargai warisan budaya yang tak ternilai harganya. Upaya pelestarian situs-situs bersejarah di Tulungagung adalah tanggung jawab bersama agar generasi mendatang dapat terus belajar dan bangga akan identitas serta akar peradaban mereka yang kuat di bawah naungan panji-panji Majapahit.
TAGS: Tulungagung, Majapahit, Sejarah Indonesia, Candi Gayatri, Arkeologi, Jawa Timur, Warisan Budaya, Kerajaan Kuno

