BLITAR – Kompleks Candi Penataran di Desa/Kecamatan Nglegok, Blitar, terus menarik perhatian sebagai salah satu situs warisan masa kerajaan yang paling lengkap di Jawa Timur.
Meski berusia lebih dari delapan abad, candi ini tak sekadar menjadi objek arkeologis.
Candi Penataran masih berfungsi sebagai ruang spiritual, edukasi sejarah, dan sumber ekonomi bagi masyarakat setempat.
Secara arsitektural, Candi Penataran menampilkan relief-relief naratif yang jarang ditemui pada kompleks candi lain.
Relief di candi utama terdapat kisah Ramayana dan Khrisnayana menghiasi dinding-dinding utama.
“Sehingga menyuguhkan nilai estetika sekaligus sumber pembelajaran sejarah dan kebudayaan,” kata Lana Faizatussulaimah, salah satu mahasiswa sejarah yang berkunjung untuk studi.
Lana menyebutkan bahwa Candi Penataran memiliki banyak inskripsi atau tulisan yang berisi tahun dan kalimat pendek.
Yang menarik, Candi Penataran ini ada banyak inskripsi berupa narasi pendek.
Lokasi inskripsi angka tahun ini ada di pendapa teras, pintu, candi, patirtan, beberapa arca dwarapala, dan di reruntuhan bagian selatan.
Dia juga menjelaskan bahwa relief yang ada di Candi Penataran bersifat naratif lantaran terdapat berbagai kisah yang termuat.
“Relief di Penataran itu naratif, di sana ada lebih dari lima kisah. Di candi utama, ada relief kisah Ramayana dan Khrisnayana,” ungkapnya.
Sejarah mencatat Candi Penataran dibangun sejak abad ke-12 dan berkaitan dengan upaya meredam dampak letusan Gunung Kelud.
Pembangunan berlangsung bertahap.
Menurut tradisi lokal dan temuan arkeologi, beberapa fase pembangunan melibatkan penerus tahta yang berbeda.
“Candi itu dibangun oleh lima raja. Dalam artian, candi ini dibangun secara berkesinambungan,” tambah Lana.
Selain fungsi ritual dan edukasi, Candi Penataran memberi dampak pada perekonomian lokal seperti pemandu lokal, pedagang suvenir, hingga usaha mikro yang melayani pengunjung.
Dia juga mengungkapkan pentingnya perawatan berkelanjutan dan dukungan lembaga terkait agar relief dan struktur batu andesit tetap terjaga.
Pendekatan edukatif kepada pengunjung, termasuk siswa dan mahasiswa, dianggap krusial untuk menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap warisan budaya.
“Candi Penataran ini cocok bagi siswa maupun mahasiswa yang ingin mempelajari terkait sejarah,” tuturnya. (kho/c1/ynu)

